Puasa Mutih

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puasa merupakan amalan yang tidak asing lagi terutama bagi umat muslim. Puasa ternyata bukan hanya dilakukan pada saat bulan ramadhan saja. Selain bulan ramadhan ternyata banyak sekali amalan puasa yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang menjalankannya.

Disekitar kita kadang juga kita temui orang-orang yang rajin menjalankan puasa senin-kamis. Puasa senin kamis merupakan salah satu puasa sunnah yang sering kali diamalkan oleh umat muslim karena keutamaan yang luar biasa besarnya.

Baca Juga: Niat Puasa Arafah

Bukan hanya puasa senin-kamis saja yang memiliki banyak keutamaan atau faedah bagi orang yang menjalankannya. Puasa di bulan Dzulhijjah, puasa 10 hari di bulan Muharram, puasa pada Rajab dan puasa di bulan Sya’ban juga merupakan puasa-puasa sunnah yang memiliki banyak keutamaan.

Selain seperti puasa diatas terdapat juga puasa ayyamul bidh atau puasa hari putih, apa ya maksudnya? Ialah puasa yang dilakukan setiap tanggal 13, 14 dan 15 pada bulan hijriyah. Puasa ini tergolong puasa sunnah.

Bagi seorang santri yaitu orang-orang yang belajar di pesantren biasanya akan banyak menjumpai berbagai macam amalan puasa. Tidak hanya puasa senin-kamis saja melainkan banyak puasa-puasa lainnya yang menjadi rutinitas bagi mereka.

Baca Juga: Niat Puasa Syawal

Para santri di pondok pesantren biasanya banyak yang melakukan puasa-puasa tertentu demi mendapat barakah atau keutamaan dari suatu bidang ilmu. Akan tetapi dalam menjalankan puasa tersebut harus ada bimbingan dari guru tidak hanya sekedar ikut-ikutan saja.

Termasuk salah satu puasa yang sering dijalani oleh santri adalah puasa mutih. Puasa mutih ini dilakukan dengan cara meninggalkan memakan makanan selain nasi dan air putih saja. Jadi ketika berbuka dan sahur yang dimakan hanya nasi putih dan air putih (bening) saja.

Keutamaan Puasa Mutih

Keutamaan dari menjalankan puasa mutih ialah untuk mendapatkan keberkahan dari seorang kyai atau suatu bidang ilmu tertentu. Biasanya tidak hanya sekedar berpuasa saja melainkan dibarengi dengan membaca amalan atau wirid tertentu yang harus dibaca selama menjalani puasa mutih tersebut.

Jadi keutamaan dari menjalankan puasa mutih ini juga sangat tergantung dari niat orang yang menjalankannya. Sebab kadang kala seseorang menjalankan puasa mutih dengan niat agar mendapat kekuatan gaib atau kekuatan supranatural.

Maka bila hendak menjalankan puasa mutih seperti diatas alangkah baiknya untuk mencari seorang guru terlebih dahulu sehingga oleh menjalankan puasa tersebut tidak asal ikut-ikutan teman atau omongan orang saja, tetapi benar-benar dibimbing oleh seorang guru dan untuk tujuan yang baik yaitu mencari ridha Allah SWT.

Penjelasan Niat Puasa Mutih

Sebagaimana puasa pada umumnya sebelum menjalankannya tentu harus membaca niat terlebih dahulu. Namun untuk puasa mutih ini niat yang digunakan biasanya menggunakan bahasa jawa bukan dengan bahasa arab. Demikian bacaan niatnya :

“niat ingsun ngelampaih puasa mutih kerono Allah Ta’ala”

“saya niat melakukan puasa mutih karena Allah Ta’ala”

Tata Cara Puasa Mutih

Secara umum, melakukan puasa mutih mutih sama dengan seperti melakukan puasa yang lainnya, yaitu melakukan sahur, menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa, berbuka ketika sudah masuk waktunya buka puasa.

Akan tetapi dalam menjalankan puasa mutih ini, makanan yang diperbolehkan untuk dimakan hanyalah nasi putih tanpa lauk apapun dan hanya diperbolehkan meminum air putih saja. Jadi tidak diperbolehkan memakan makanan apapun selain nasi putih dan air bening.

Meskipun demikian sebagian orang yang mengamalkan puasa mutih mengatakan ada yang memperbolehkan untuk memakan tahu putih (bukan tahu kuning). Untuk lebih jelasnya bila hendak mengamalkan puasa mutih ini maka datanglah ke seorang kyai atau ustadz yang memahami amalan tersebut.

Tujuannya adalah agar puasa yang dilakukan tidak menjadi amal yang sia-sia di sisi Allah. Sehingga tetap menjadi amal yang membuahkan pahala di sisi-Nya.

Demikan, wallahu a’lamu bish shoab wassalamualaiakum warahmatullahi wabarakatuh. 

Satu pemikiran pada “Puasa Mutih”

Tinggalkan komentar