Puasa Daud

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Umat muslim mengenal banyak macam ibadah yang status hukumnya sunnah. Seperti puasa senin-kamis, puasa arafah, puasa pada bulan rajab, puasa pada bulan dzulhijjah dan lain sebagainya.

Menjalani puasa sunnah sebaiknya tidak sampai mengalahkan kegiatan yang wajib, kenapa demikian? Karena status hukumnya sunnah maka kesunahan terletak setelah hukum wajib. Nah pada kesempatan kali ini kami akan mengulas sedikit hal yang berkaitan dengan puasa daud.

Pengertian Puasa Daud

Puasa daud ialah puasa yang dilakukan oleh Nabi Daud AS. yaitu puasa yang dikerjakan dengan cara sehari puasa dan sehari berbuka (tidak puasa). Puasa Daud merupakan salah satu puasa yang paling utama.

Jadi puasa daud ialah puasa yang memiliki status hukum sunnah dengan tata cara pelaksanaan yang diajarkan oleh Nabi Daud AS. Puasa Daud boleh dikerjakan oleh siapa saja dengan niat ikhlas karena mengharap ridho Allah SWT.

Tata Cara Puasa Daud

Tata cara melaksanakan puasa daud sebenarnya sama saja dengan melaksanakan puasa yang lainnya, yaitu membaca niat, melakukan sahur sebelum datangnya fajar, menahan diri dari hal yang membatalkan puasa hingga datangnya waktu berbuka.

Namun yang membedakan puasa daud dengan yang lainnya yaitu waktu pelaksanaanya. Waktu pelaksanaan puasa daud yaitu dikerjakan dengan cara sehari berpuasa dan seharinya lagi tidak begitu seteterusnya.

Nah biasanya terdapat hari-hari tertentu yang tidak  diperbolehkan untuk berpuasa seperti hari syak misalnya, maka bagi orang yang biasa menjalankan puasa sunnah tetap diperbolehkan untuk berpuasa.

Terkecuali pada hari tasyrik (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah)  atau lebaran idul adha maka diharamkan untuk menjalankan puasa apapun. Jadi bagi yang  biasa menjalankan ibadah puasa sunnah maka pada hari itu tetap diwajibkan untuk berbuka puasa.

Niat Puasa Daud

Niat melaksanakan puasa daud dapat dibaca dengan kalimat berbahasa arab atau dengan bahasa Indonesia bagi yang tidak bisa.  Nah lafadz niat puasa daud ialah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ دَاوُدَ سُنَّةً لَلهِ تَعَالَى

“saya niat puasa sunnah daud lillahi ta’ala”

Niat Puasa Daud Latin

Bagi teman-teman  yang ingin menjalankan puasa daud tapi tidak bisa atau belum mengerti bacaan dalam bahasa arabnya maka, boleh membaca niat dengan menggunakan bahasa Indonesia.

“saya niat puasa Daud karena Allah Ta’ala”

Waktu Membaca Niat

Berbeda dengan melaksanakan puasa wajib yang harus membaca niat pada malam harinya. Bila menjalankan puasa sunnah maka membaca niatnya bisa dilaksanakan pada malam harinya sebelum sahur atau sesudah sahur.

Namun bila ternyata lupa belum membaca niat hingga pagi harinya maka diperbolehkan untuk membaca niat pada pagi harinya hingga sebelum matahari tergelincir (hingga sebelum datangnya waktu dzuhur) dan lupa tidak membaca niat tersebut tidak sampai membatalkan puasa daudnya.

Sebab dalam pelaksanaan puasa sunnah, boleh membaca doa pada pagi hingga siang harinya (sebelum matahari tergelincir) bila memang lupa tidak membaca niat pada malam harinya.

Puasa Daud Puasa Yang Paling Utama

Puasa daud merupakan salah satu puasa yang begitu utama, mendapatkan pahala yang begitu besar dan puasa daud merupakan salah satu puasa yang paling utama sebagaimana dalam hadis disebutkan:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Puasa yang paling utama adalah puasanya Nabi Dawud AS, ia berpuasa sehari dan berbuka (tidak berpuasa) sehari” (H.R. An-Nasa`i)

Kenapa puasa Daud merupakan puasa sunnah yang paling utama? Karena puasa daud merupakan puasa yang paling berat. Dengan puasa Daud seseorang bersua dengan apa yang sudah menjadi kesenangan sehari kemudian ia harus berpuasa sehari berikutnya.

لِكَوْنِهِ أَشَقَّ عَلَى النَّفْسِ بِمُصَادَفَةِ مَأْلُوفِهَا يَوْمًا وَمُفَارَقَتِهِ يَوْمًا

“Karena puasa dawud itu memberatkan jiwa dengan mendapati apa yang disegani jiwa sehari sehari kemudian meninggalkannya sehari pula” (Abdurrauf al-Munawi, at-Taisir bi Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, Riyadl-Maktabah al-Imam asy-Syafi’i, cet ke-3, 1408 H/1988 M, juz, 1, h. 374)

Demikian yang dapat kami sampaikan atas segala kekurangan dan kekeliruan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga bermanfaat dan maslahat untuk kita semuanya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Baca Juga :

Tinggalkan komentar