Tarikh Islam

Periode Awal

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sebagai umat muslim mestinya mengetahui bagaimana agama Islam mengawali masa permulaan hingga ke masa perkembangannya lantas sampai ke masa kemajuannya.namun bila sejarah itu ditulis dalam sebuah artikel rasanya membutuhkan waktu yang lama untuk menyampaikannya.

Nah pada kesempatan kali ini kami akan mengulas masa dakwah rasulullah SAW. dari cara sembunyi-sembunyi sampai kepada masa beliau hijrah dari Makkah Mukarramah ke Madinah al-Munawwarah.

Arab Sebelum Islam

Bangsa Arab adalah penduduk asli jazirah Arab semenanjung yang terletak di bagian barat daya Asia ini sebagian besar permukaannya terdiri dari padang pasir. Secara umum iklim di jazirah Arab amat panas, bahkan termasuk yang paling panas dan paling kering di muka bumi.

Mayoritas bangsa Arab adalah penganut agama Watsani (penyembah berhala). Dikisahkan bahwa penyebar agama watsani pertama di tengah tengah masyarakat Arab adalah ‘Amr bin Luhayy Al Khuza’i. Dialah orang yang pertama membawa patung dari Syam ke Ka’bah.

Sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebagian bangsa Arab di Hijaz (Makkah, Yatsrib, Thaif, dan sekitarnya) sudah memiliki kepercayaan, tradisi, dan pengaruh 3 agama besar saat itu; Yahudi (pembawa agamanya dinisbahkan kepada Nabi Musa), Kristen (pembawa agamanya dinisbahkan kepada Nabi Isa Al-Masih/Yesus Kristus), Zoroaster/Majusi (pembawa agamanya dinisbahkan kepada Zaratustra).

Agama asli bangsa Arab sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, khususnya Makah dan sekitarnya adalah Pagan (penyembah berhala), disamping ada juga pengaruh agama dari wilayah lain seperti; Yahudi, Kristen, dan Zoroaster/ Majusi.

Mereka para penyembah berhala itu akan membawa patung-patung kecil yang mereka anggap Tuhan kemanapun mereka pergi. Hal itu dilakukan karena mereka berkeyakinan bahwa dengan cara itulah mereka dapat lebih dekat dengan Tuhan. Sehingga dalam berbagai hal Tuhannya dapat segera menolong mereka.

Meskipun demikian, mereka tetap menganggap ka’bah adalah tempat yang paling suci dan menjadi sentral ibadah seluruh umat manusia. Ada beberapa nama lain untuk sebutan ka’bah, yaitu: Ka’bah,  Baitul Haram, Baitul ‘Atik,  Al- Bait.  Berdasarkan firman Allah yang artinya:

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (QS. 3 : 96).

Peradaban Islam Pada Masa Nabi Muhammad

Nabi Muhammad lahir di Mekkah pada hari senin pagi 12 Rabi’ul awal bertepatan dengan tanggal 20 April tahun 571 M. Tahun kelahiran Nabi dikenal dengan tahun Gajah, karena pada tahun itu pasukan Abrahah dengan menunggang gajah menyerbu Mekkah ingin menghancurkan ka’bah.

Beliau lahir dari keluarga miskin secara materi namun berdarah ningrat dan terhormat. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab.

Dikisahkan, bahwa anak-anak Hasyim ini adalah keluarga yang berkedudukan sebagai penyedia dan pemberi air minum bagi para jamaah haji yang dikenal dengan sebutan Siqayah al- Hajj.

Sedangkan ibunda Nabi Muhammad adalah Aminah binti Wahab, adalah keturunan Bani Zuhrah. Kemudian, nasab atau silsilah ayah dan ibunda Nabi bertemu pada Kilab ibn Murrah.

Periode Makkah

Prinsip kesederajatan dan keadilan yang dibangun Nabi, mencakup semua aspek baik politik, ekonomi, maupun hukum. Pertama, aspek politik. Muhammad mengakomodasikan seluruh kepentingan, semua rakyat mendapatkan hak yang sama dalam politik, walaupun penduduk Madinah sangat heterogen, baik dalam arti agama, ras, suku dan golongan golongan. Kedua, aspek ekonomi,

Nabi mengaplikasikan ajaran egaliterianisme, yakni pemerataan saham-saham ekonomi kepada seluruh masyarakat. Seluruh lapisan masyarakat mempunyai hak yang sama untuk berusaha dan berbisnis.

Misi egaliterianisme ini sangat tipikal dalam ajaran Islam. Sebab misi utama yang diemban oleh Nabi bukanlah misi teologis, dalam arti untuk membabat habis orang-orang yang tidak seideologi dengan Islam, melainkan untuk membebaskan masyarakat dari cengkeraman kaum kapitalis.

Ketiga, aspek Hukum, Nabi memahami aspek hukum sangat urgen dan signifikan kaitannya dengan stabilitas suatu bangsa karena itulah Nabi tidak pernah membedakan “orang atas”, “orang bawah” atau terhadap keluarga sendiri Nabi sangat tegas dalam menegakan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Madinah.

Maksudnya yaitu tidak ada seorangpun kebal hukum. Prinsip konsisten legal (hukum) harus ditegakkan tanpa pandang bulu, sehingga supermasi dan kepastian hukum benar-benar dirasakan semua anggota masyarakat

Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi

Pada masa ini Rasulullah SAW melakukan dakwah secara diam diam dilingkungan keluarga sendiri dan dikalangan rekan-rekannya. Mula-mula yang masuk Islam pertama kali adalah istri Rasulullah kemudian saudara sepupunya Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar ash-Shidiq, Zaid bekas budak yang menjadi anak angkatnya, Ummu Aiman pengasuh Nabi semenjak ibunya masih hidup.

Kemudian dilanjutkan oleh Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqasah dan Thalhah bin Ubaidillah mereka dibawa kehadapan Nabi dan mengikrarkan untuk memeluk Islam dihadapan Nabi sendiri.

Pada persiapan dakwah yang berat maka dakwah pertama beliau mempersiapkan mental dan moral. Oleh sebab itu beliau mengajak manusia atau umatnya untuk:

  • Mengesakan Allah
  • Mensucikan dan membersihkan jiwa dan hati
  • Menguatkan barisan
  • Meleburkan kepentingan diri di atas kepentingan jamaah.

Dakwah Secara Terang-Terangan

Langkah dakwah selanjutnya menyeru masyarakat secara umum. Nabi menyerukan kepada bangsawan dan seluruh masyarakat Quraisy. Pada awalnya Nabi hanya berdakwah pada penduduk Makkah dan dilanjutkan pada penduduk diluar Makkah secara terang-terangan.

Rasulullah gencar mempublikasikan agar orang masuk Islam, kemudian pada masa itu beliau mengajak segenap umat Islam untuk melaksanakan ibadah haji. Dilain waktu, acara jamuan tersebut diadakan kembali.

Kali ini para tamu undangan mulai mendengarkan perkataan Rasulullah namun tak satupun dari mereka yang meresponnya secara positif. Hal tersebut tidak membuat Rasulullah dan para sahabatnya patah arah, tetapi membuat Rasulullah dan para sahabatnya semangat dan dakwahnya semakin diperluas hingga suatu ketika Rasulullah mengadakan pidato.

Kepemimpinan Rasulullah Di Mekah

dakwah fase pertama yang dilakukan Rasulullah SAW di Makkah yaitu menyeru keluarga dan sahabat-sahabat beliau yang paling karib. Mereka diajak beliau kepada pokok-pokok agama Islam, yaitu percaya kepada adanya Tuhan dan meninggalkan pemujaan kepada berhala.

Pada fase ini ada beberapa orang yang dapat menerima seruan Muhammad, yaitu: Istri beliau, Ali, Zaid, dan Abu bakar. Pada fase kedua Rasulullah menyeru Bani Abdul Mutholib. Pada fase ini pula Rasulullah menyeru dengan terang-terangan kepada agama baru ini. Dalam Al-quran, Allah berfirman yang artinya:

“jalankanlah apa yang telah disuruhkan kepadamu dengan tegas, dan berpalinglah dari orang-orang yang musrik”.

Sesudah ayat ini turun, mulailah Rasulullah menyeru segenap lapisan manusia kepada agama islam dengan terang-terangan; baik golongan bangsawan maupun lapisan hamba-sahaya, begitu juga kaum kerabat beliau sendiri atau orang-orang jauh.

ula-mulanya beliau menyeru penduduk Makkah, kemudian penduduk negri-negri lain. Selain itu beliau juga menyeru orang-orang dari macam-macam negri yang berdatangan ke Makkah untuk mengerjakan haji.

Kepemimpinan Rasulullah Di Madinah

Setelah Nabi berada di Madinah, barulah Nabi mengarahkan usahanya untuk membina hukum-hukum pergaulan. Ketika itulah Nabi mengsyari’atkan hukum segala aspek hidup, baik yang berhubungan dengan perorangan maupun berhubungan dengan masyarakat.

Di Madinah Nabi mensyari’atkan hukum ibadat dan hukum mu’amalat, jihad, mawaritsw, wasiat, perkawinan, thalaq, hukum-hukum sumpah, peradilan dan segala hukum yang dilingkupi fiqih.

Selama di Madinah, ada beberapa usaha yang dilakukan oleh Nabi untuk membentuk dasar-dasar masyarakat islam. Usaha-usaha tersebut diantaranya yaitu :

  • Mendirikan mesjid
  • Mempersaudarakan antara Anshar dan Muahjirin
  • Perjanjian bantu membantu antara sesama kaum Muslimin dan bukan Muslimin
  • Meletakan dasar-dasar politik, ekonomi dan sosial untuk masyarakat baru

Peran peradaban Nabi Muhammad begitu jelas. Nabi Muhammad telah membentuk sebuah pemerintahan local yang didirikan atas pandangan kenabiannya.

Dalam waktu yang cukup singkat pemerintahan local Madinah telah mampu bersaing dengan kaum Quraish Makkah, dan bahkan kekaisaran Bizantium dan Sasani. Nabi Muhammad merupakan peletak fondasi kedaulatan sosial-politik umat Islam yang sekaligus menjadi peletak dasar bagi pengembangan peradaban Islam.

Tinggalkan komentar