Zakat Pertanian 

Pada Era saat ini kebanyakan masyarakat sudah mengerti apa itu zakat dan sering melakukan zakat di daerah setempat, dengan berzakat akan memperoleh berkah dan zakat dapat membersihkan jiwa atau pensuci dosa.

Zakat juga termasuk dalam rukun Islam, orang berzakat atau disebut Muzaki juga harus memperhatikan siapa saja yang berhak menerima zakat yang disebut dengan Mustahik seperti orang-orang yang tergolong fakir,miskin, amil, mu’allaf, Gharimin, Fisabilillah dan Ibnu sabil yang dijelaskan dalam QS. At-Taubah ayat 60.

Zakat pertanian sangat penting bagi para petani baik yang menghasilkan padi atau perkebunan, karena saat ini melakukan pemeliharaan atau perawatan tanam padi atau kebun membutuhkan biaya untuk itu, maka ketentuan perhitungan dan kadar zakat berbeda-beda.

Pengertian Zakat Pertanian

Orang yang menuaikan zakat harus memahami jenis zakat. Ada 2 jenis zakat yaitu zakat maal dan zakat fitrah. Salah satu jenis zakat mal adalah zakat hasil Pertanian yang artinya tanaman atau tumbuhan hasil bumi baik sayuran, biji-bijian dan buah-buahan yang memiliki tuntunan langsung dari Al Quran dan Hadist Rosulullah dalam surat Al- An’am ayat 141.

Syarat Zakat Pertanian

Zakat Pertanian dikeluarkan saat menerima hasil panen yang dijelaskan dalam QS. Al-An’am ayat 141. Adapun Syarat-syarat melakukan zakat Pertanian antara lain beragama Islam, merdeka, sempurna milik, cukup nisab, tanaman yang bertahan dan disimpan lama, tanaman tersebut hasil usaha manusia bukan tumbuh sendiri atau liar, dihanyutkan air dan lainnya.

Pendapat Mengenai Jenis Hasil Zakat Pertanian

Ada beberapa pendapat tentang jenis-jenis hasil pertanian yang wajib dikeluarkan zakat menurut Imam Yusuf Al Qaradhawi antara lain

  1. Ulama Malikiyah dan Syafiiyah yang menjelaskan jenis tanaman yang bisa disimpan dan merupakan makanan pokok seperti gandum, padi, jagung, kurma, dan apapun yang menjadi makanan pokok daerah setempat.
  2. Ulama Hanabilah berpendapat jenis tanaman yang kering, dapat ditimbang, ditakar dan tahan lama, tidak diwajibkan buah dan sayur yang cair.
  3. Ulama Hanafiyah berpendapat jenis tanaman yang diniatkan diambil hasilnya contohnya semua jenis tanaman.

Penghitungan Zakat Pertanian

Zakat pertanian tidak berlaku haul, karena zakat pertanian adalah ketika panen. Adapun perhitungan Nishab(batas minimal harta zakat bagi kewajiban zakat atas hartanya) dan kadar zakat dari pertanian menurut Kemenag RI yaitu apabila jenis harta seperti padi,jagung, dan sagu serta jenis tanaman lain yang dianggap makanan pokok.

Nisabnya 1.350kg(Gabah) atau 750kg (Beras) dengan kadar zakat 5% (Makanan pokok dan pengairan yang membutuhkan tenaga dan biaya), 10%(Makanan pokok dan pengairan yang tidak membutuhkan tenaga dan biaya) dan 2,5%(Barang dagangan dan bukan makanan pokok warga setempat).

Berikut beberapa perbedaan pendapat mengkonversi 5 Ausuq, dimana kebanyakan Muzakki merujuk pada pada ulama.

  1. Jumhur Ulama = 610 kg Beras
  2. Abu Hanifah = 875 kg Beras
  3. Imam Al Qaradhawi = 647 kg Beras
  4. BAZNAS = 653 kg Beras
  5. Kemenag RI = 750kg Beras / 1.350kg Padi

Contoh Penghitungan Zakat pertanian

Pak Anton adalah petani memiliki luas sawah 2 Ha yang ditanami padi. Selama pemeliharaan Pak Anton mengeluarkan biaya Rp. 6000.000, ketika panen menghasilkan 11 ton beras, Berapa zakat yang dikeluarkan Pak Anton?

Jawab :

Ketentuan Zakat Hasil Pertanian( perhitungan ketentuan  BAZNAS)

Nisab = 5 Wasaq atau 653 kg Beras

Tarif = 5% karena menggunakan perairan dan memerlukan biaya

Waktu = Ketika padi dipanen(menghasilkan beras)

Jadi Zakat yang dikeluarkan Pak Anton yaitu

Hasil panen 11 ton = Rp. 11000 kg melebihi Nisab

11.000 kg × 5% = 550 kg

Apabila dijadikan rupiah maka tentukan terlebih dahulu harga beras kemudian kalikan dengan hasil jumlah beras yang sudah dipanen lalu kalikan 5%.

Jika para petani menanam lahannya tidak dengan tanaman padi melainkan dengan perkebunan, maka Nisabnya sama nilainya dengan ketentuan zakat Pertanian.

Baca Juga : Artikel yang membahas tentang pertanian di website Lingkuptani.com

 

(Ditulis Oleh : Lein Ita Nurbaety)

Tinggalkan komentar