Zakat Perdagangan

Assalamualaikum wr.wb

Puji syukur kehadirat Alloh SWT yang telah melimpahkan nikmat sehat wal’afiat sampai pada hari ini kepada kita semua.

Tentu teman-teman disini sudah tidak asing lagi mendengar istilah zakat bukan?

Yups betul, Zakat adalah mengeluarkan harta benda tertentu yang telah mencapai syarat yang ditentukan dan wajib hukumnya dilakukan oleh muslim/muslimah. Zakat sendiri merupakan rukun islam yang ke-3 dan tentu ada bermacam-macam, namun pada kali ini saya akan membahas mengenai Zakat Perdagangan/Zakat Perniagaan.

Berikut pembahasan mengenai zakat perdagangan/zakat peniagaan.

Pengertian Zakat Perdagangan

Zakat Perdagangan atau bisa disebut Zakat Perniagaan adalah sebagian harta yang dikeluarkan dari harta benda/barang yang diperjualbelikan dengan tujuan menghasilkan keuntungan yang telah memenuhi syarat yang telah ditentukan. Zakat ini diperuntukkan bagi persikatan seperti perusahaan, CV, koperasi dll ataupun perseroan. Adapun dalil Al-qur’an yang menjadi landasan untuk berzakat niaga :

  1. Al-Baqarah ayat 267 : “ Hai orang-orang beriman, nafkahkanlah (di jalan Alloh SWT) sebagian dari usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untukmu.

Syarat Dan Ketentuan Zakat Perdagangan

Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam zakat perdagangan antara lain :

  1. Barang merupakan milik sendiri dan sudah dimiliki selama 1 tahun/haul dalam perhitungan kalender hijriah.
  2. Barang dagangan senilai nisab emas(setara 85 gram 24 karat) atau nisab perak(595 gram).
  3. Zakat bisa dibayarkan menggunakan uang atau barang.
  4. Barang dagangan bukan termasuk barang yang wajib dizakati sebelumnya seperti perak, emas, ternak dan mata uang yang disimpan.

Perhitungan Nishab Harta Perdagangan

Jika teman-teman disini masih bingung tentang bagaimana sih cara menghitung nishabnya? Nah, disini akan dijelaskan mengenai perhitungan nishabnya, sebagai berikut :

  1. Menurut Abu Hanifah, nishab harta perdagangan dihitung mulai dari awal tahun sampai akhir tahun (tahun hijriah).
  2. Menurut Jumhur Ulama, nishab dihitung sepanjang tahun hijriah(berputar selama 1 tahun hijriah). Jika hartanya berkurang dari nishab walaupun sesaat saja, maka haul tersebut terputus.
  3. Menurut Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i, nishab harta perdagangan dihitung dari akhir haul

Perhitungan Zakat Perdagangan/Zakat Niaga

Sebelum menghitung zakat niaga ini, para pengusaha/pedagang baiknya mengumpulkan dan mengkalkulasikannya. Adapun hal yang dikalkulasikan menurut jumhur ulama adalah :

  1. Modal utama usaha, keuntungan yang diperoleh, tabungan(jika ada barang yang disimpan) dan nilai barang yang diperjualbelikan.
  2. Piutang yang masih ada kemungkinan untuk dilunasi.

Cara menghitung :

[(modal utama + untung + piutang yang bisa dicairkan) – (utang + rugi)] x 2.5% = Zakat Yang Dibayarkan

Contoh Kasus Perhitungan

Sebuah toko bangunan memiliki rincian hutang dan aset berikut :

– barang elektronik yang belum terjual senilai Rp. 350.000.000,-

– untung yang dihasilkan di tahun ini sebesar Rp. 50.000.000,-

– piutang yang dibayarkan oleh rekannya pada tahun ini kira-kira Rp. 30.000.000,-

– utang di saudaranya berkisar Rp.25.000.000,- yang akan jatuh tempo

Maka zakat yang harus dibayarkan oleh pemilik toko bangunan tersebut adalah :

Rp. 350 juta + Rp. 50 juta + Rp. 30 juta – Rp. 25 juta = Rp. 405 juta

2.5% x Rp.405 juta = Rp. 10.125.000,-

Jadi yang wajib dibayar oleh pemilik toko adalah Rp. 10.125.000,-

itulah penjelasan zakat perdagangan yang dapat saya sampaikan, apabila dari penjelasan ini teman teman masih kurang paham silahkan bisa komen di bawah ini atau tanyakan langsung ke ustadz terdekat.

 

(Ditulis Oleh : Laeli Nur Hidayati)

Tinggalkan komentar