Sunan Kudus

Sunan Kudus

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung. Sunan Kudus dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang tegas dalam menegakkan syariat. Namun, seperti wali yang lain, Sunan Kudus dalam berdakwah berusaha mendekati masyarakat untuk menyelami serta memahami kebutuhan apa yang diharapkan masyarakat.

Itu sebabnya, Sunan Kudus dalam dakwahnya mengajarkan penyempurnaan alat-alat pertukangan, kerajinan emas, pande besi, membuat keris pusaka, dan mengajarkan hukum-hukum agama yang tegas.

Sunan Kudus selain dikenal sebagai eksekutor Ki Ageng Pengging dan Syaikh Siti Jenar, juga dikenal sebagai tokoh Walisongo yang memimpin penyerangan ke ibukota Majapahit dan berhasil mengalahkan sisa-sisa pasukan kerajaan tua yang sudah sangat lemah itu.

Baca Juga : Biografi Sunan Gunung Jati

Makam Sunan Kudus

Makam Sunan Kudus terletak di bagian belakang kompleks Masjid Agung Kudus di dalam kota Kudus. Seperti makam Wali Songo yang lain, makam Sunan Kudus berada di dalam tungkub diselubungi oleh kelambu tipis warna putih yang terbuka pada bagian pintu berukir.

Di dalam kompleks pemakaman Sunan Kudus, di luar tungkub, terdapat sejumlah makam tokoh yang termasyhur pada zaman kejayaan Demak, seperti makan Raden Kusen (Pecat Tanda Terung) dan istri, Panembahan Palembang, Panembahan Kuleco, Panembahan Mangahos, Panembahan Condro, istri Sunan Muria, Pangeran Pedamaran I, II, III, IV, dan V, Pangeran Sujoko, Pangeran Pradabinabar, Pangeran Palembang, dan sebagainya.

Nasab Da Nasal-Usul Sunan Kudus

Seperti silsilah Wali Songo lainnya, Silsilah Sunan Kudus memiliki beberapa versi yang berbeda satu sama lain. Namun, di antara perbedaan itu terdapat benang merah yang menghubungkan satu silsilah dengan silsilah yang lain. Menurut versi Cirebon yang ditulis Rachman Sulendraningrat dalam Sejarah Hidup Wali Songo (1988),

Sunan Kudus adalah putra Sunan Undung. Sunan Undung sendiri adalah putra dari saudara Sultan Mesir, adik dari Rara Dampul. Sunan Undung dan saudarinya, Rara Dampul, pergi ke negeri Puser Bumi di Cirebon dan bertemu dengan Syarif Hidayat, yaitu sepupu mereka yang menjadi Sunan di Gunung Jati.

Syarif Hidayat menyarankan agar Undung pergi ke Ampeldenta berguru kepada Sunan Ampel. Undung pergi Ampeldenta dan menjadi murid terkasih Sunan Ampel. Undung kemudian dinikahkan dengan cucu Sunan Ampel yang bernama Syarifah, yang dikenal dengan nama Nyi Ageng Manila, adik Sunan Bonang.

Dari pernikahan itu, lahirlah Raden Fatihan atau Jakfar Shadiq, yang dikenal sebagai Sunan Kudus.

Istri Dan Keturunan Sunan Kudus

Kanjeng Sunan Kudus menikah dengan putri Pecat Tanda Terung menurunkan tujuh orang anak, yaitu:

  1. Nyi Ageng Pembayun;
  2. Panembahan Palembang;
  3. Panembahan Mekaos Honggokusumo;
  4. Panembahan Karimun;
  5. Panembahan Kali;
  6. Ratu Pradabinabar (menikah dengan Pangeran Pancawati, Panglima Sunan Kudus);
  7. Penembahan Joko (wafat sewaktu masih usia muda).

Keilmuan Sunan Kudus

Raden Jakfar Shadiq dalam cerita tutur dikisahkan belajar ilmu agama kepada ayahnya sendiri, yaitu Raden Usman Haji atau Sunan Ngudung. Selain berguru kepada ayahandanya, Raden Jakfar Shadiq juga dituturkan berguru kepada seorang ulama bernama Kyai Telingsing.

Menurut cerita, Kyai Telingsing adalah seorang Cina muslim yang bernama asli The Ling Sing. Kedatangannya ke Pulau Jawa dikaitkan dengan kunjungan Laksamana Cheng Ho.

Sebagaimana disebutkan dalam sejarah, kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Pulau Jawa, selain untuk mengadakan tali persahabatan juga menyebarkan Agama Islam melalui anak buahnya yang ditinggalkan di sejumlah daerah.

Cara Dakwah Sunan Kudus

Sebagaimana Wali Songo lainnya, Raden Jakfar Shadiq berusaha mendekati masyarakat untuk menyelami serta memahami apa yang diharapkan masyarakat. Dan dalam hal dakwah langsung ke tengah masyarakat itu, Raden Jakfar Shadiq banyak memanfaatkan jalur seni dan budaya beserta teknologi terapan yang bersifat tepat guna, yang dibutuhkan masyarakat.

Menurut Primbon milik Prof. K.H.R. Moh. Adnan, sebagai anggota Wali Songo, Raden Jakfar Shadiq dalam menjalankan dakwahnya mendapat tugas memberi bimbingan dan keteladanan kepada masyarakat.

Dakwah Dengan Seni Dan Budaya

Usaha Raden Jakfar Shadiq menyempurnakan alat-alat pertukangan yang berhubungan dengan perbaikan teknik membuat keris pusaka, kerajinan emas, pandai besi, dan tentunya pertukangan, tampaknya memberikan pengaruh dalam arsitektur yang berkembang di tengah masyarakat Kudus dan sekitarnya.

Bangunan rumah Kudus yang sampai sekarang dianggap sebagai bangunan khas Kudus, tampaknya arsitekturnya berkembang pada masa Sunan Kudus karena relief-relief yang terdapat pada candi-candi di Jawa Tengah tidak satu pun yang menunjukkan arsitektur sama dengan bangunan rumah Kudus.

Bangunan Menara Masjid Kudus dan Lawang Kembar Masjid Kudus, menunjukkan kompromi arsitektur Islam dengan arsitektur setempat yang berciri Hindu.

Perpaduan kompromis kedua jenis bangunan itu—Menara Masjid Kudus dan Lawang Kembar Masjid Kudus—sedikitnya diabadikan dalam cerita legenda yang menyatakan bahwa Sunan Kudus membawa masing-masing bangunan itu dalam bungkus sapu tangan. Menara dibawa dari tanah Arab, sedangkan lawang (pintu) kembar dibawa dari Majapahit.

Larangan Menyembelih Sapi

Perpaduan unsur Islam dengan unsur lokal yang dilakukan Raden Jakfar Shadiq tampak pula pada cerita legenda yang mengaitkan tokoh Sunan Kudus dengan pelarangan masyarakat untuk menyembelih dan memakan daging sapi: hewan yang dimuliakan dan dihormati orang-orang beragama Hindu.

Ada kisah menuturkan bahwa suatu saat Sunan Kudus dalam perjalanan dakwahnya tersesat di daerah lembah berhutan-hutan dan kehilangan jalan. Setelah berputar- putar sampai sore, Sunan Kudus mendengar suara genta yang ternyata berasal dari sekawanan sapi sedang berjalan.

Sunan Kudus lalu mengikuti sapi-sapi itu berjalan sampai ke sebuah desa. Oleh karena merasa berhutang budi kepada sapi-sapi itu, Sunan Kudus lalu mewanti-wanti penduduk untuk tidak memakan daging sapi.

Bahkan, saat Idul Qurban pun dikisahkan yang disembelih Sunan Kudus bukan sapi melainkan kerbau. Demikianlah, hingga saat sekarang ini di daerah Kudus tidak ditemukan penduduk yang menjual makanan terbuat dari daging sapi, dengan alasan tidak berani melanggar larangan Sunan Kudus.

Tinggalkan komentar