tata cara sholat mayit

Kewajiban muslim terhadap mayit (orang yang sudah meninggal)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sebagai makhluk hidup yang telah dilahirkan ke dunia ini, maka pada saatnya setiap yang hidup pasti akan mengalami mati. Ketika suatu makhluk telah mati, maka baginya tidak dapat lagi melakukan aktifitas layaKnya manusia hidup.

Fardhu Kifayah 

Maka bagi setiap manusia yang mendapati saudaranya atau manusia lain  meninggal dunia, maka baginya hendaknya mengurus segala keperluan jenazah tersebut. Mengurus jenazah hukumnya fardhu kifayah. Akan tetapi bila tidak terdapat satu orang pun yang mengurus,maka bagi orang di tempat tersebut hukumnya menjadi wajib.

Fardhu kifayah maksudnya yaitu apabila terdapat orang meninggal di suatu tempat, akan tetapi di tempat tersebut tidak ada yang mengurus jenazah tersebut maka orang yang berada di tempat tersebut semuanya mendapat dosa. Akan tetapi bila sudah ada yang mengurusi meskipun satu orang, maka yang lainnya gugur kewajibannya.

Kewajiban terhadap mayit

  1. Memandikan
  2. Mengkafani
  3. Mensholati
  4. Mengubur

Bila simayit muslim atau yang baru lahir dalam keadaan hidup kemudian meninggal maka hukum untuk mengurus mayit tersebut menjadi fardhu kifayah. Adapun bagi seorang kafir zimi dan janin yang lahir dalam keadaan sudah meninggal, maka hanya cukup pada mengkafani kemudian mengkuburkan. Tidak wajib untuk mensholati.

Mati Syahid

Orang yang tewas dalam pertempuran membela agama melawan orang kafir disebut mati syahid. Terdapat perbedaan dalam cara mengkafani. Bagi orang yang mati syahid tidak perlu diberi kain kafan seperti pada umumnya, melainkan cukup menggunakan pakaian yang dikenakan ketika mati syahid tersebut.

Kecuali bila tidak mencukupi maka wajib ditambah kain kafan sehingga seluruh jasadnya tertutupi. Orang yang mati syahid tersebut tetap harus dikubur layaknya orang meninggal pada umumnya. Akan tetapi untuk orang yang mati syahid baginya tidak wajib dimandikan dan di sholati.

Memandikan jenazah orang yang mati syahid justru hukumnya haram. Hal itu dikarenakan untuk mempertahankan bukti kesyahidannya seperti darah akibat luka misalnya. Begitu pula haram menshalati jenazah orang mati syahid. Hal ini beralasan karena terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh shahabat Jabir;

Anna nabiyya shollallohu ‘alaihi wasallama lam yushollli qotla uhudin wa lam yusholli ‘alaihim

“bawasanya nabi sholallahu ‘alaihi wasallam tidak mau memandikan dan menshalati orang yang gugur di perang uhud”

Keterangan dari hadis diatas adalah hal itu hanya berlaku bagi orang yang mati karena membela kalimat Aloh SWT. Dan hal itulah yang dinamakan dengan mati syahid dunia dan akhirat. Yaitu mati dalam keadaan membela atau menegakan kalimat Alloh SWT.

Namun bila perang yang dilakukan hanyalah untuk mencari harta rampasan perang saja, maka apabila mati disebut dengan mati syahid dunia. Kedua-duanya sama-sama tidak boleh dimandikan dan dishalatkan.

Namun bila seseorang meninggal dalam keadaan syahid akhirat saja maka baginya wajib dimandikan, dikafani dan dishalati. Lalu apa yang dimaksud dengan mati syahid akhirat saja? Contohnya seperti orang yang mati ketika melahirkan, mati karena dianiaya, mati karena tenggelam, mati terbakar, mati sedang menuntut ilmu (ngaji) walaupun matinya di rumah.

Seseorang yang meninggal dalam keadaan ihram saat haji, maka dalam pengurusan jenazahnya wajib dimandikan, dikafani dan dikubur. Akan tetapi bila jenazah laki-laki maka dalam pemakaian kain kafan tidak boleh menutupi kepala, namun bila jenazahnya perempuan kain kafan tidak boleh menutupi wajah. karena ihram tidak batal sebab meninggal.

Tata Cara Memandikan Mayit

Paling sedikitnya dalam memandikan mayit adalah meratakan air ke seluruh badannya mayit. Yang lebih sempurna adalah, terlebih dahulu mayit diwudukan lalu kepalanya dibasuh dengan air yang dicampur daun Bidara atau yang lebih mudah dibasuh dengan sabun.

Kemudian dilanjutkan dengan menyiramkan air ke badan bagian kanan dari atas sampai bawah. Kemudian diteruskan dengan menyiramkan air ke badan bagian kiri. Menyiramkan air ke badan dilakukan sebanyak tiga kali. Demikian sesuai hadis nabi yang diriwayatkan oleh ummu ‘Athiyah  Ra;

“ketika putra-putrinya rosululloh wafat, kami hendak memandikannya, kemudian rosululloh masuk ke tempat pemandiannya. Rosululloh berkata: siramkanlah sebanyak tiga kali atau lima kali lebih pun tidak apa-apa yang terpenting ganjil. Pada siraman yang pertama campurlah dengan daun Bidara dan siraman yang terakhir campurlah dengan kapur barus sedikit. Dan ketika menyiram dahulukanlah sebelah kanan serta anggota wudhu. Ummu ‘Athiyah berkata: setelah selesai alu rambutnya digulung sebanyak tiga gulungan disisi kiri dan kanan dan diberi wangi-wangian”  

Cara Memandikan Mayit

Berikut kami ulas perincian tata cara dalam memandikan mayit.

  1. Memandikan mayit hendaknya di tempat yang sepi dan aman
  2. Ketika memandikan tidak diperbolehkan ada orang yang masuk ke dalam tempat pemandian kecuali orang yang sedang memandikan
  3. Bila mayit laki-laki maka yang memandikan juga harus laki-laki. Begitu pula bila mayitnya perempuan maka yang memandikan juga harus orang perempuan
  4. Mayit di taruh di kursi atau lincak (bahasa jawa) yang tinggi supaya tidak kecipratan air bekas siraman
  5. Mayit jangan sekali-kali ditelanjangi. Akan tetapi dipakai akan sarung atau jarit atau kain penutup lan sehingga auratnya tidak kelihatan. Sebab hal itu diharamkan.
  6. Air yang digunakan untuk menyiram mayit yaitu air dingin yang dicampur dengan garam sedikit. Kecuali bila ada hajat yang mengharuskan dengan air hangat.

Kemudian mayit disiram dengan air untuk mensucikan badan simayit. Pada bagian perut mayit diurut pelan-pelan supaya kotorannya keluar. Adapun cara mengurutnya yaitu: mayit didudukkan sehingga punggungnya agak condong ke belakang, disenderkan ke lututnya orang yang memandikan serta punggungnya mayit di sangga dengan tangan kanan kemudian perutnya si mayit diurut dengan tangan kiri hingga beberapa kali.

  1. Kemudian mayit di tengadahkan dan dimiringkan ke kanan dan kiri untuk diceboki menggunakan tangan kiri orang yang memandikan dengan dibalut kain.
  2. Kemudian gigi dan hidungnya dibersihkan. Bila kukunya terdapat kotoran maka dibersihkan dengan pelan-pelan. Perlu diperhatikan betul. Mayit jangan sampai ditengkurebkan.
  3. Setelah benar-benar bersih kemudian mayit diwudhukan seperti wudhunya orang yang masih hidup.
  4. Baru kemudian mayit mulai dimandikan menggunakan air yang bening dan bersih. Dimulai dari kepala bagian atas dan disertai dengan membaca niat seperti berikut:

Bismillahir rahmaanir rahiim nawaitu adaa-al ghusli ‘an hadzal mayyiti lillahi ta’ala

“dengan menyebut nama Alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang. Aku niat memandikan mayit ini karena Allo ta’ala”

Kemudian menyiramkan air ke badan sebelah kanan hingga ke bawah dan badan sebelah kiri. Dilakukan sebanyak tiga kali.

  1. Pada siraman yang terakhir, air hendaknya dicampur dengan kapur barus
  2. Setelah mayit selesai dimandikan kemudian rambutnya disisir dengan sisir yang renggang giginya. Apabila terdapat rambut rang rontok,maka harus diambil dan kemudian ikut dikafankan.
  3. Bila mayitnya perempuan, maka rambutnya di gulung sebanyak tiga iringan ke kanan dan kiri. Lalu dipakaikan wangi-wangian.

Cara mengkafani mayit

Mengkafani mayit berlaku sama saja baik mayit itu laki-laki atau perempuan, dewasa atau anak-anak. Mengkafani mayit umumnya sebanyak tiga lapisan dengan menggunakan kain mori putih dengan panjang dan lebar potongan yang sama. Sekiranya dapat untuk menutupi jasadnya mayit.

Namun bila hendak diberi kafan hingga lima lapis juga diperbolehkan tidak ada larangan.bila mayit tersebut laki-laki maka supaya ditambah baju kurung dan sorban, namun bila mayit tersebut perempuan, maka diberi tapih, mukena baju kurung kemudian kain kafan dua lembar.

Selanjutnya perlu dipahami bersama bahwasanya kain kafan tidaklah harus menggunakan kain mori. Intinya sesuatu yang diperbolehkan dipakai ketika hidup maka dibolehkan untuk dipakai sebagai kain kafan. Maka seandainya mayit perempuan dikafani dengan sutera pun diperbolehkan, hanya saja bersifat makruh.

Juga makruh hukumnya mengkafani mayit dengan kain kafan berwarna hijau atau kuning. Maka sebab itu yang paling utama adalah warna putih polos. Adapun jenis kain kafan yang digunakan untuk mengkafani melihat dari segi kemampuan keluarga. Bila mayit dari keluarga kaya maka sebaiknya dengan kain kafan yang bagus.

Sholat Mayit

Cara menshalati mayit

Menshalati mayit hukumnya fardhu kifayah. Menshalati mayit tidak sama dengan sholat seperti biasanya, yait tidak terdapat sujud dan rukuk sebab shalat mayit dilakukan dengan berdiri dari mulai niat sampai salam.bahkan membaca doa setelahnya shalat mayit pun tetap sambil berdiri. Berikut rukun-rukun shalat mayit.

  1. Niat
  2. Mengangkat 4 takbir
  3. Berdiri bagi yang mampu
  4. Membaca al-fatihah
  5. Membaca sholawat kepada nabi Muhammad saw setelah takbir yang ke dua
  6. Mendoakan mayit setelah takbir ke tiga
  7. Salam

Niat Sholat Mayit 

 Niat sholat jenazah laki laki

Usholli ‘ala hadzal mayyiti arba’a takbiirootin fardo kifaayatin lillah ta’ala

“aku niat menshalatkan mayit ini dengan empat takbir fardhu kifayah karena Alloh ta’ala”

Niat sholat jenazah perempuan

  • Niat shalat jenazah (jenazah perempuan)

Usholli ‘ala hadzihi mayyitati arba’a takbiirootin fardo kifaayatin lillah ta’ala

“aku niat menshalatkan mayit (perempuan) ini dengan empat takbir fardhu kifayah karena Alloh ta’ala”.

Setelah niat kemudian takbir dan dilanjutkan dengan membaca surat al-fatihah. Setelah selesai membaca surat al-fatihah kemudian takbir kembali. Setelah takbir yang kedua kemudian diteruskan dengan membaca sholawat kepada nabi Muhammad saw. Seperti sebagai berikut;

  • Membaca sholawat ibrohimyah setelah takbir kedua

  • Membaca doa setelah takbir ke tiga

Adapun yang lebih lengkap ditambah doa berkut:

Untuk jenazah perempuan

Adapun yang lebih lengkap ditambah doa berkut:

  • Membaca doa setelah takbir ke empat

Untuk jenazah perempuan

Setelah selesai membaca doa yang terkhir kemudian membaca salam seperti pada sholat biasanya.

Tata cara mengubur mayit

Menguburkan mayit hukumnya sama dengan memandikan, menshalatkan dan mengkafani mayit yaitu fadhu kifayah. Dalam proses mengubur mayit, paling sedikitnya lubang untuk mengubur mayit yaitu lubang yang cukup untuk menyembunyikan mayit dan menjaga mayit dari binatang buas.

Sebaiknya dalam mengubur mayit lubangnya itu menggunakan lubang landak. Geladaknya (kayu untuk menutupi mayit di dalam liang kubur) terpasang dengan posisi berdiri. Dengan catatan bila tanah di lokasi pemakaman berupa tanah yang keras. Adapun bila tanahnya berupa tanah yang gempur maka menggunakan liang lahat di tengah.

Adapun tata cara mengubur jenazah yaitu setelah liang kuburan siap antara panjang dan lebarnya dengan ukuran tinggi kira-kira orang dewasa berdiri dan mengangkat tangannya (sak dedeg sak pengawe).

Kemudian mayit diletakan di sebelah selatan liang kubur. Kemudian mayit diangkat dengan hati-hati. Lalu diserahkan kepada orang-orang yang berada di dalam liang kuburan. Dalam kondisi demikian para pelayat membaca kalimat berikut:

Kemudian mayit diletakan di sebelah barat, dengan posisi miring ke kanan dan mujur ke utara sehingga mayit dalam posisi menghadap kiblat. Adapun meletakan mayit dengan posisi menghadap kiblat itu hukumnya wajib.

Selanjutnya mayit diberi bantal dengan tanah (tanahnya dibulatkan) dan kain kafan yang menutupi wajah di buka. Sebab disunahkan menempelkan pipinya mayit ke tanah kuburan. Serta semua talinya dilepas dan jasadnya diganjal dengan tanah agar tidak mengglebak.

Setelah selesai semuanya kemudian ditutup dengan kayu atau bamboo (gledek). Kemudian dilanjutkan dengan ditimbun dengan tanah hingga rata. Dan disunahkan untuk menaruh batu nisan atau dengan kayu atau lainnya di atas letak kepalanya mayit. Begitu pula disunahkan menyiram kuburan dengan air dingin.

Demikianlah pembahasan mengenai kewajiban muslim terhadap muslim lainnya yang meninggal dunia. Semoga kita semua diberi keselamatan di dunia dan akhirat.amin. meninggal dunia adalah suatu kepastian yang pasti akan dihadapi oleh setiap manusia. Harapan kita semua semoga kita meninggal dalam keadaan yang baik atau husnul khotimah.amin ya rabbal ‘alamin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tinggalkan komentar