Pengertian Haji

Penjelasan Pengertian Haji

Menurut pengertian bahasa, “haji” adalah menyengaja “atau” menuju “, sedangkan menurut syara’ adalah “menuju tanah suci Mekah (Ka’bah) karena dapat digunakan untuk keperluan ibadah kepada Allah SWT pada waktu tertentu dengan cara tertentu. Adapun “Umrah” menurut bahasa berarti “ziarah”, sedangkan menurut syara’ adalah “menuju tanah suci Mekah (Ka’bah) karena menggunakan ibadah untuk Allah SWT”. Haji dan umrah adalah dua kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT satu kali seumur hidup.

Firman Allah SWT :

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (Al-Baqarah : 196)

Sabda Rasulullah SAW :

“Barang siapa melaksanakan ibadah haji satu kali, maka sungguh menunaikan kewajibannya. Barang siapa melaksanakan ibadah haji dua kali, maka sungguh telah mengutangi Tuhannya. Dan barang siapa melaksanakan ibadah haji tiga kali, maka Allah mengharamkan rambutnya dan kulitnya atas api neraka.” (Riwayat Muslim)

Baca Juga : Rukun Iman

Syarat Wajib Haji

Maksud wajib haji yaitu seseorang diwajibkan melaksanakan ibadah haji jika memenuhi persyaratan tertentu. Dasarnya adalah firman Allah SWT :

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) atau yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali Imran: 97)

Syarat wajib haji itu ada tujuh perkara, yaitu :

Islam

Setiap orang Islam terkena wajib haji dan umrah. Berbeda dengan orang kafir, tidak terkena kewajiban haji dan umrah karena dia belum beriman, yang berarti bukan ahli ibadah. Oleh karena itu, jika ada orang yang melaksanakan haji atau umrah, maka tidak sah dan menjadi amal yang sia-sia.

Baca Juga : Rukun Iman

Baligh

Ibadah haji dan umrah hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah baligh. Anak kecil (belum baligh) tidak wajib haji atau umrah. Sabda Rasulullah SAW:

“Diangkat pena (tidak wajib) dari tiga hal, yaitu dari anak kecil hingga ia dewasa (balig), dan orang yang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia waras.” (Riwayat Abu Dawud dan lainnya)

Tetapi jika anak kecil melaksanakan haji dan umrah, sah hukumnya. Sahabat Jabir pernah meriwayatkan:

Jabir berkata, “Kami telah melaksanakan haji bersama-sama Rasulullah SAW, dan bersama rombongan kami ada wanita dan adapula anak-anak. Maka kami membaca talbiyah untuk anak-anak dan melempar (jamaraat) untuk mereka.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)

Baca Juga : Rukun Iman

Berakal Sehat

Orang Islam yang berakal sehat wajib melaksanakan haji dan umrah. Maka orang yang tidak waras akalnya tidak wajib haji dan umrah karena dia tidak termasuk ahli ibadah. Dasarnya dinyatakan hadis tentang baligh (no. 2.2) tersebut di atas.

Merdeka

Pengertian merdeka adalah setiap orang Islam yang tidak sedang dalam kekuasaan orang lain, misalnya budak. Seorang budak tidak wajib melakukan ibadah haji dan umrah. Jika dia melaksanakannya, sah hukumnya, asal memenuhi syarat rukunnya karena budak termasuk ahli ibadah. Namun jika setelah melaksanakan haji dan umrah itu kemudian ia merdeka, maka wajib melaksanakan haji sekali lagi.

Rasulullah SAW. bersabda:

“Siapa saja anak kecil yang pergi haji, kemudian balig, maka wajib baginya haji yang lain. Dan siapa saja seorang budak yang pergi haji, kemudian merdeka, maka wajib baginya haji yang lain.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi)

Baca Juga : Rukun Iman

Ada Bekalnya

Seorang yang telah memiliki rezeki yang cukup untuk bekal pergi ke tanah suci diwajibkan haji dan umrah, termasuk bekal yang cukup untuk perjalanan pergi hingga pulang, di samping itu juga terdapatnya nafkah (bekal) yang cukup untuk keluarga yang ditinggalkan di negerinya. Jangan sampai pergi haji dengan meninggalkan keluarga yang kekurangan atau kelaparan di kampungnya.

Hadis Rasulullah SAW .:

Anas menceritakan sebuah hadis yang ia terima langsung dari Rasulullah SAW sehubungan dengan firman-Nya: “Dan mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” Anas berkata, “Telah dikatakan kepada Rasulullah SAW, Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud sabiil (jalan)? Rasulullah SAW. Menjawab, ‘Yaitu bekal dan kendaraan (Riwayat 1 Daruquthni)

Baca Juga : Niat Shalat Jamak

Ada Kendaraannya

Kendaraan yang dimaksud adalah segala jenis kendaraan yang mampu mengangkut seorang muslim dari negerinya hingga ke tanah suci dan sampai kembali ke kampung halamannya lagi. Kendaraan bisa milik sendiri, bisa dengan cara sewa ataupun fasilitas lainnya.

Rukun Haji

Rukun haji ada enam perkara, yaitu:

Ihram

Ihram adalah niat masuk ke dalam haji atau umrah. Secara umum berarti memasukkan dirinya ke dalam sesuatu yang diharamkan baginya atas sesuatu yang semula berhukum halal. Misalnya haram memakai wangi-wangian selama ihram, yang semula tidak dilarang di luar ihram.

Baca Juga : Niat Shalat Jamak

Wuquf di Arafah

Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji wajib wuquf (berhenti) di Padang Arafah, walaupun hanya sebentar. Baik sambil berdiri, duduk, di atas kendaraan, ataupun di bawah, yang penting di Arafah.

Sabda Rasulullah SAW .:

“Haji itu Arafah. Barang siapa yang datang pada malam kesepuluh (Dzul Hijjah sebelum terbit fajar, maka sungguh menjumpai haji.” (Riwayat Turmudzi dan Abu Dawud)

Catatan :

Disebut lailata jam’in karena waktu itu adalah waktu berkumpulnya manusia.

Pelaksanaan wuquf harus di tanah Arafah. Dinamakan Arafah karena tempat ini dulu tempat bertemunya Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa yang diturunkan di Jedah. Mereka saling bertemu atau saling tahu (arafa) di Arafah, tepatnya di Jabal Rahmah. Pendapat lain mengatakan bahwa Malaikat Jibril ketika memberi tahu (arafa) kepada Nabi Ibrahim a.s. tentang manasik haji di tempat tersebut.

Baca Juga : Niat Shalat Jamak

Adapun waktu wuquf itu adalah sejak tergelincirnya matahari tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah) sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Ketika sudah tergelincir matahari, maka hendaknya segera dikerjakan khotbah wuquf oleh seorang imam di antara jamaah. Selesai khotbah, mengerjakan salat Lohor dijamak (dikumpulkan) dengan Asar (jamak taqdim). Disunatkan azan satu kali dan iqamah dua kali.

Caranya: Azan, iqamah, kemudian salat Lohor. Iqamah lagi, kemudian salat Asar. Lalu dilanjutkan dengan memperbanyak doa, zikir, tahlil, tahmid, dan membaca Al-Qur’an.

Wajib Wuquf

  1. Wuquf pada waktu yang telah ditentukan. yaitu sejak tergelincir matahari tanggal 9 Dzul Hijjah sampai terbit fajar malam Idul Adha (10 Dzul Hijjah). Maka barang siapa yang wuquf di Arafah pada waktu tersebut -walaupun hanya sebentar- wuqufnya sah dan hajinya juga sah. Tetapi barang siapa yang tidak menjumpai waktu tersebut, maka hajinya tidak sah.
  2. Orang yang wuquf itu ahli ibadah, sekalipun anak kecil. Jika ada orang wuquf sambil tidur atau ngobrol (bicara yang tidak ada gunanya), maka wuqufnya sah, tetapi tidak mendapatkan fadilah atau kesempurnaan ibadah.

Sunat Sunat Wuquf

  1. Mandi untuk wuquf
  2. Khotbah wuquf
  3. Mengerjakan salat Lohor dan Asar dengan jamak taqdim
  4. Segera wuquf setelah selesai salat Lohor dan Asar
  5. Menghadap kiblat
  6. Dalam keadaan suci.

Seandainya ada orang yang wuquf di dalam keadaan junub, haid, atau sejenisnya, maka sah wuqufnya, tetapi tidak memperoleh fadilahnya ibadah

  1. Tidak berpuasa
  2. Hati yang khusyuk, tidak memikirkan pekerjaan duniawi. Jika ada suatu urusan pekerjaan, hendaknya diselesaikan sebelum tergelincirnya matahari.
  3. Menetap di tempat wuquf sampai terbenam matahari, sehingga terkumpul antara siang dan malam di dalam wuqufnya.
  4. Tidak berbicara kotor, caci maki, bertengkar, dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya.
  5. Memperbanyak doa, tahlil, tahmid, membaca Al-Qur’an dan sebagainya. Semua itu dikerjakan dengan tadharru’ dan khusyuk.

Baca Juga : Kisah Wali Allah SWT

Thawaf

Thawaf adalah mengelilingi Ka’bah tujuh kali dengan cara-cara tertentu dan batas-batas tertentu. Thawaf rukun ini dinamakan juga “thawaf ifadhah”.

Adapun cara melaksanakan thawaf adalah sebagai berikut:

  1. Orang yang thawaf hendaklah memulainya dari sudut Hajar Aswad atau garis lurus Hajar Aswad yang terletak pada sudut Ka’bah berdekatan dengan pintu Ka’bah.
  2. Mengelilingi Ka’bah dengan posisi pundak kiri di Arah Kabah dan pundak kanan di arah luar. Diawali dari Hajar Aswad (kalau bisa mencium Hajar Aswad) menuju rukun Iraqi (II) terus melewati rukun Syami (III), lalu rukun Yamani (IV) dan berakhir pada Hajar Aswad lagi. Dan ini dihitung satu kali putaran, kemudian diulangi lagi sampai 7 (tujuh) kali putaran dihitung thawaf yang sempurna.

Syarat Syarat Thawaf

  1. Wajib menutup aurat (pendapat Imam Syafi’i, Maliki, dan Hambali).

Menurut Imam Abu Hanifah, aurat tidak wajib menutup aurat.

Rasulullah SAW, bersabda:

“Tidak sah thawaf di Baitullah bagi orang yang telanjang. “(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Barang siapa yang thawaf dengan terbuka auratnya, maka thawafnya tidak sah. Oleh karena itu, seandainya ada seorang wanita yang thawaf dengan kelihatan kaki atau rambutnya, maka tidak sah thawafnya karena aurat dalam thawaf sama dengan aurat dalam shalat. Yakni aurat wanita adalah seluruh tubuh, kecuali wajah dan tangan. Sedangkan aurat laki-laki terletak di antara pusar dan lutut.

  1. Wajib suci dari hadas kecil dan besar, dari najis badan dan pakaian serta tempatnya. Seandainya thawaf dalam keadaan najis maka tidak sah thawafnya.

Rasulullah SAW. Bersabda :

“Haid ini merupakan ketetapan dari Allah untuk bagi para wanita. Maka laksanakan semua ketentuan ibadah haji, kecuali mengerjakan thawaf “(riwayat Bukhari)

  1. Wajib niat thawaf pada selain thawaf haji dan umrah. Adapun thawaf untuk haji dan umrah tidak wajib niat, karena niat untuk haji sudah termasuk thawaf, kecuali thawaf wada’

Niat thawaf sunah :

“Saya niat melakukan thawaf ke Baitullah ini dengan tujuh kali putaran sunat karena Allah Ta’ala”

Niat thawaf qudum (untuk yang melakukan haji ifrad) yaitu:

“Saya niat melakukan thawaf qudum di Baitullah ini dengan tujuh kali putaran sunat karena Allah SWT.”

  1. Wajib thawaf berada di dalam masjid, boleh di lantai bawah atau di lantai atas. Sekalipun tidak bisa melihat Ka’bah -misalnya terhalang pandangan oleh tiang atau dinding- yang penting masih berada di dalam masjid.

Diriwayatkan oleh Jabir, bahwa Nabi SAW. selalu thawaf di dalarn masjid.

Dari Jabir, “Bahwa sesungguhnya Nabi SAW ketika sampai di Mekah, mendekat ke Hajar Aswad, kemudian beliau sapu Hajar Aswad itu dengan tangan, kemudian beliau berjalan ke sebelah kanannya. ” (Riwayat Muslim dan Nasai)

  1. Wajib thawaf di luar lingkaran Ka ‘bah, termasuk Hijir Ismail dan Syadzarwan. Jika thawaf berada di dalam lingkaran Hijir Ismail atau Syadzarwan, maka thawafnya tidak sah.

Catatan:

Hijir Ismail adalah bangunan pagar dinding yang mengitari sebagian bangunan Ka’bah di sebelah utara Ka’bah (terletak di antara Rukun Iraqi dan Rukun Syami). Orang yang thawaf harus berada di luar lingkaran Hijir Ismail ini.

Hijir Ismail berarti “pangkuan Ismail” Di sanalah Ismail (putra Nabi Ibrahim a.s., pembangun Kabah) pernah berada di pangkuan ibunya yang bernama Hajar. Di sana pula letak makam Hajar.

Syadzarwan adalah bangunan pendek bagian luar Ka’bah yang melingkari dinding Ka’bah. Syadzarwan ini adalah bagian dari Kabah. Maka orang yang thawaf tidak boleh menyentuh dinding Ka’bah. Kalau ingin menyentuh dinding Ka’bah atau salat di Hijir Ismail, hendaknya dilakukan setelah selesai pekerjaan thawaf.

  1. Wajib memulai thawaf dari Hajar Aswad dengan seluruh badannya. Jika memulainya bukan dari Hajar Aswad, misalnya dari Maqam Ibrahim, maka thawafnya tidak sah.
  2. Wajib berada di sebelah kanan Ka’bah, yaitu Ka’bah berada di sebelah kiri orang yang thawaf. Dan hendaknya melakukan thawaf dengan istilam (mengusap Hajar Aswad), mencium Hajar Aswad (kalau tidak bisa menciumnya, maka cukup isyarat dengan tangan saja), kemudian berjalan ke arah Rukun Iraqi, Rukun Syami, Rukun Yamani (di sini sunat Istilam, tetapi tidak sunat mencium seperti ketika di hajar Aswad) dan kembali lagi ke Rukun Aswad (sudut Hajar Aswad). Seandainya thawaf dari Hajar Aswad, kemudian berjalan ke arah Rukun Yamani, maka tidak sah. Jika ada yang thawaf dengan berjalan membelakang atau menghada Ka’bah, maka thawafnya tidak sah. Diperbolehkan menghadapkan badannya ke arah Ka’bah hanya pada permulaan dan selesai thawaf.
  3. Wajib thawaf tujuh kali putaran sempurna. Jika ragu-ragu tentang perhitungan thawaf maka yang diambil adalah hitungan yang lebih kecil. Dan wajib menyempurnakan hitungan sampai benar-benar yakin tujuh putaran.

Baca Juga : Pengertian Fiqih

Sunat Sunat Thawaf

  1. Berjalan tanpa alas kaki, kecuali uzur syar’i, misalnya kaki sakit.
  2. Memakai selempang putih; (bagian atas agar diletakkan di bawah pundak dekat ketiak, sehingga pundak kanan terbuka dan pundak kiri tertutup). Ini hanya sunat bagi laki-laki, sementara wanita tidak disunatkan karena wanita harus menutup auratnya, dan pundak wanita termasuk aurat.
  3. Mengusap (istilam) Hajar Aswad, lalu menciumnya. Hal ini sunat dilalukan ketika memulai thawaf bagi orang laki-laki, itu pun jika tidak membahayakan dirinya maupun orang lain (karena berdesak-desakan). Wanita tidak disunatkan mencium Hajar Aswad, kecuali jika memang keadaan sudah sepi dari orang thawaf.

Sabda Rasulullah SAW:

Rasulullah SAW, bersabda kepada Umar r.a. “Wahai Abu Hafsh, sesungguhnya kamu adalah seorang laki-laki yang kuat. Maka jangan ikut berdesak-desakan pada Ruku (untuk mencium Hajar Aswad) karena kamu bisa menyakiti orang lain yang badannya lemah. Akan tetapi, apabila kamu mendapatkan lowongan (sepi), maka istilamlah; dan jika tidak bisa, maka bertakbirlah dan teruskan (pekerjaan thawafmu)”. (Riwayat Imam Syafi’i di dalam sunahnya).

  1. Istilam pada Rukun Yamani. Yaitu mengusap Rukun Yamani, kemudian mengecup tangannya setelah istilam. Kalau tidak bisa mendekat, cukup dengan melambaikan tangannya saja. Di rukun Yamani tidak disunatkan menciumnya seperti ketika di Hajar Aswad.
  2. Berjalan cepat atau berlari kecil pada tiga putaran pertama dan berjalan pelan pada empat putaran terakhir, jika ini memungkinkan.
  3. Berjalan dekat Ka’bah seperti ketika salat, sunat di deat Ka’bah. Ini pun kalau tidak berdesak-desakan yang sampai membahayakan diri. Kalau keadaan memang sulit, maka thawaf di tempat jauh pun lebih baik asal masih bisa menjalankan thawaf dengan baik, misalnya masih bisa ramal (berlari-lari kecil) atau berjalan cepat pada tiga putaran pertama.
  4. Melakukan thawaf dengan khusyuk, tenang dan tidak berbicara kecuali memperbanyak zikir dan doa.
  5. Sunat mengerjakan salat dua rakaat setelah selesai putaran ketujuh. Tempat yang dianjurkan, antara lain di Multazam, dan di Hijir Ismail. Pada rakaat pertama membaca surat Al-Kafirun, pada rakaat kedua membaca surat Al-Ikhlas.
    • Sa’i

Sa’i adalah perjalanan antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Berjalan dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali. Jadi, sa’i itu harus bermula dari Shafa dan berakhir di Marwah. Sa’i dikerjakan setelah selesai rangkaian kegiatan thawaf, yaitu selesai thawaf, kemudian salat dua rakaat, minum air Zamzam, dan menuju ke Shafa untuk mengerjakan Sa’i.

Syarat Syarat Sa’i

  1. Memulai sa’i dari Shafa menuju ke Marwah dan putaran kedua harus dari Marwah ke Shafa. Seandainya ada orang yang sa’i memulai (putaran pertama) dari Marwah, maka sa’inya tidak sah. Atau sebaliknva pada putaran kedua memulai dari Shafa, juga tidak sah.
  2. Menempuh seluruh jarak perjalanan dari Shafa hingga Marwah.

Seandainya berjalan dari Shafa dan baru mencapai 90% perjalanan, misalnya, maka sa’inya tidak sah. Untuk lebih meyakinkan, sebaiknya kaki orang yang sa’i berangkat dari gundukan Shafa dan berjalan sampai menginjak gundukan Marwah.

  1. Melakukan sa’i sampai tujuh kali putaran. Cara menghitungnya: Shafa-Marwah=satu kali, dan Marwah-Shafa=satu kali, begitu seterusnya. Jika ragu-ragu tentang hitungannya, maka yang dihitung adalah hitungan yang lebih sedikit. Misalnya ragu ragu apakah sudah tujuh kali atau baru enam kali, maka yang dianggap adalah enam kali dan harus menyempurnakannya.
  2. Hendaknya mengerjakan sa’i setelah selesai thawaf dengan sempurna (thawaf qudum thawaf ifadhah, dan thawaf umrah). Kecuali thawaf wada ‘, tidak diperintahkan sa’i karena thawaf wada ‘merupakan penutup dari rangkaian ibadah haji.

Rasulullah SAW.bersabda:

 

Sesungguhnya Nabi SAW. bersabda, “Wahai para manusia, bersa’ilah kamu sekalian, karena sesungguhnya sa’i telah diwajibkan atas kamu sekalian. Maka tidak sah sa’i, kecuali setelah thawaf. Jika ada orang sa’i dulu, kemudian thawaf, maka sa’inya tidak dianggap. “(Riwayat Daruquthni dan lainya)

 Baca Juga : Pengertian Iman

Sunnah Sunnah Sa’i

  1. Berjalan tanpa alas kaki. Ketika Sa’i disunatkan berjalan tanpa alas kaki. Dan bagi laki-laki disunatkan lari-lari kecil di antara tiang hijau (lampu berwarna hıjau) yang melintang di atas tempat sa’i dekat Shafa. Sedangkan wanita tidak disunahkarn lari-lari kecil.
  2. Suci dari hadas dan najis. Disunatkan mengerjakan sa’i dalam keadaan suci. Jika ada orang sa’i dalam kondisi hadas atau haid atau najis, maka sa’inya tetap sah. Hal ini pernah dilakukan oleh Aisyah r.a. yang sa’i dalam situasi haid yang sulit atas perintah Rasulullah SAW.
  3. Menutup aurat. Disunatkan mengerjakan sa’i dengan tertutup auratnya seperti waktu salat. Jika ada yang membuka auratnya -misalnya seorang wanita yang kelihatan sebagian rambutnya atau sebagian kakinya-, maka sa’inya tetap sah.
  4. Memperbanyak doa dan zikir. Dalam perjalanan sa’i disunatkan berdoa, baik laki-laki maupun perempuan. Di antara Shafa dan Marwah dianjurkan berdoa berikut:

“Ya Allah, ampunilah, sayangilah, maafkanlah, bermurah hatilah, dan hapuskanlah apa-apa yang Engkau ketahui dari dosa kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang kami sendiri tidak tahu. Sesungguhnya Engkau, ya Allah Mahatinggi lagi Maha Pemurah.”

  1. Muwaalaat (bersambung). Disunatkan bersambung (langsung) antara sa’i dengan thawaf dan antara putaran sa’i yang pertama dengan kedua dan seterusnya sampai selesai.
    • Mencukur Rambut

Mencukur atau memendekkan rambut kepala termasuk rukun haji. Yang dipotong sedikitnya wajib tiga helai rambut dan sunat dilakukan setelah melempar jamrah aqabah sebelum thawaf ifadhah. Mencukur rambut lebih utama dibanding memotong atau memendekkannya.

Sabda Rasulullah SAW:

Dari Ibnu Umar, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda, “Ya Allah, rahmatilah orang yang mencukur rambutnya.” Para sahabat berkata, “Orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya”. Para sahabat berkata,” Orang-orang yang memendekkan rambutnya saja, wahai Rasulullah? Rasulullah SAW. bersabda, “Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya”. Para sahabat berkata, “Orang yang memendekkan rambutnya wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda,” Dan orang-orang yang (hanya) memendekkan rambutnya”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Mencukur rambut itu tidak terbatas (harus) tukang cukur saja yang sudah tahallul, tetapi boleh dipotong sendiri atau oleh seorang kawan yang diberi izin, asal waktu memotong sudah masuk. Memotong rambut boleh di Mina, di Mekah atau tempat lainnya. Hanya saja sebelum memotong rambut, masih terikat dengan larangan ihram.

Mencukur rambut tidak disunatkan bagi wanita, tetapi hanya diperintahkan memotong atau memendekkan saja minimal tiga helai. Mencukur rambut kepala atau menggunli kepala hanya dianjurkan bagi laki-laki saja. Dan biasanya di tempat-tempat cukur.

  • Tertib (Berurutan)

Rukun haji yang keenam adalah menertibkan (berurutan) seluruh ketentuan tersebut di atas, yakni mendahulukan ihram daripada wuquf, thawaf rukun dan mencukur rambut. Mendahulukan thawaf daripada sa’i dan mendahulukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan urutannya.

Umrah

Umrah diwajibkan sama seperti diwajibkan haji, yakni cukup sekali dalam seumur hidup manusia. Jika mampu umrah dua kali atau lebih, itu disunatkan.

Sabda Rasulullah SAW :

“Dari umrah yang satu ke umrah berikutnya merupakan kafarat (tebusan) bagi dosa-dosa diantara kedua umrah itu”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Rukun umrah pada dasarnya sama dengan rukun haji kecuali wuquf di Arafah. Karena wuquf di Arafah tidak termasuk bagian dari umrah. Maka dari itu umrah waktunya tidak terbatas, sedangkan haji waktunya terbatas. Jadi, rukun umrah ada lima dengan perincian sebagai berikut :

  • Ihram

Niat ihram umrah, yakni mengerjakan ihram diniatkan untuk umrah.

Lafaz niatnya yaitu :

“Aku niat umrah dan aku ihram dengannya karena Allah SWT”

 

Adapun tata caranya sama seperti ihram haji. Perbedaannya hanya terdapat pada miqat zamani. Kalau ihram umrah boleh sepanjang  tahun, sedangkan ihram haji terbatas pada bulan Haji saja.

  • Thawaf

Thawaf untuk umrah sama seperti thawaf untuk haji, seperti berjalan cepat pada tiga putaran pertama dan berjalan biasa pada empat putaran akhir. Demikian juga mencium Hajar Aswad ataupun istilam dan sebagainya.

  • Sa’i

Setelah melakukan thawaf, hendaknya segera diikuti dengan sa’i yang dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah.

  • Mencukur Rambut

Mencukur rambut atau memendekkan rambut dilakukan setelah sa’i putaran ketujuh. Dan tempat mencukur rambut sebaiknya di Marwah atau sekitarnya.

  • Tertib

Melakukan rukun umrah dengan tertib mulai dari niat ihram, thawaf, sa’i, sampai mencukur rambut. Jika semua itu sudah dikerjakan dengan tertib, berarti sudah tahallul dengan sempurna, karena umrah hanya memiliki satu tahallul. Artinya jika sudah mencukur rambut minimal tiga rambut, sudah halal melakukan semua larangan ihram.

 

 

Satu pemikiran pada “Pengertian Haji”

Tinggalkan komentar