Maslahah Mursalah

Assalamualaikum warahmatu,lahi wabarakatuh

Pada kesempatan kali ini kami masih membahas mengenai beberapa sumber hukum Islam. Selain al-Qur’an dan hadis yang digunakan sebagai pedoman dalam menentukan hukum atas suatu perbuatan, beberapa golongan dalam Islam juga menggunakan Ijma’ dan Qiyas sebagai salah satu metode dalam menentukan sumber hukum Islam.

Meskipun demikian terdapat beberapa golongan yang tidak sependapat dengan penggunaan ijma’ dan Qiyas atau ijtihad sebagai salah satu metode dalam menentukan sumber hukum Islam.

Pada kesempatan kali ini kami akan mengulas mengenai salah satu bagian dari pada ijtihad, yaitu maslahah mursalah, bila pada kesempatan yang lalu kam membahas ijma’ dan qiyas, nah pada kesempatan kali ini kami akan sedikit mengupas tentang maslahah mursalah. Dimana maslahah mursalah ini merupakan bagian dari salah satu metode ijtihad.

Berbicara hukum islam memang teramat banyak yang harus dikaitkan dengan hukum agama, setiap tingkah laku manusia dan fenomena sosial yang terjadi ditengah masyarakat tentu menimbulkan pertanyaan dan perspektif baru mengenai status hukum dari perbuatan tersebut.

Untuk menentukan status hukum dari suatu perkara tidaklah segampang mencari dalil lalu muncul hukum baru, melainkan harus benar-benar detail dan jeli terhadap perkara dan dalil yang digunakan untuk menentukan status hukum dari perkara tersebut.

Pengertian Maslahah Mursalah

Maslahah mursalah adalah salah satu tindakan yang memutuskan pada masalah yang tidak ada naskahnya dengan pertimbangan kepentingan terhadap hidup manusia berdasarkan prinsip atau manfaat dan menghindari kemudharatan.

Penggunaan kata Maslahah Mursalah adalah ijtihad yang paling subur hanya untuk menetapkan hukum yang tidak ada nashnya dan jumhur ulama menganggap Maslahah Mursalah sebagai hujjah syariat. Hal ini berdasarkan beberapa alasan, sebagai berikut:

Pertama, Karena semakin tumbuh dan bertambah hajat manusia terhadap kemaslahatan, jika hukum tidak menampung untuk kemaslahatan terhadap manusia yang dapat diterima dan kurang sempurna dari syariat masih kurang beku

Ke dua, Untuk para sahabat dan para tabi’in untuk menetapkan hukum secara berdasarkan kemaslahatan seperti Abu Bakar, untuk menyuruh dan mengumpulkan mushaf Al-Quran dan kemaslahatan umat.

Jadi maslahah mursalah ini merupakan suatu dari bagian Ijtihad yang digunakan oleh ulama ahli ijtihad untuk menentukan suatu hukum baru yang berkaitan dengan kemaslahatan umat pada umumnya, akan tetapi dalam pengambilan atau pemberian hukum baru ini tidak sampai keluar dari ketentuan-ketentuan akidah agama atau al-Quran dan hadis.

Contoh Maslahah Mursalah

Sebagai contoh yaitu pengumpulan dan pembukuan al-Qur’an yang dilakukan pada masa khulafaur rasyidin. Pengumpulan al-Qur’an ini pada masa Rasulullah saw. tidak pernah dilakukan karena orang-orang yang ingin belajar al-Qur’an dapat langsung belajar dengan Rasulullah saw.

Mereka yang ingin menghafal al-Qur’an juga bisa langsung menghafal dengan para sahabat Rasul dan mengkaji bersama Rasul. Akan tetapi setelah Rasulullah SAW. wafat dan diteruskan oleh Khulafaur rasyidin maka segala sesuatu yang tadinya dapat ditanyakan langsung kepada Rasulullah saw. sekarang tidak bisa langsung ditanyakan.

Nah untuk menjawab persoalan ini kemudian para Shahabat khususnya shahabat yang empat yaitu Sayyidan Abu bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman dan Sayyidna Ali, sellau melakukan musyawarah dan berijtihad dalam menentukan hukum dari suatu perkara yang sedang dihadapi.

Jadi memang ijtihad dan macam-macam ijtihad ini tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah masih hidup, karena segala persoalan agama yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW. dapat ditanyakan secara langsung kepada Rasul.

Namun demikian ini bila dikaitkan dengan pembahasan bid’ah atau sesuatu yang baru, maka hal ini termasuk ke dalam bid’ah hasanah, atau bid’ah yang baik.

Demikian yang dapat kami sampaikan, atas kurang dan lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga bermanfaat untuk kita sekalian dan orang-orang disekitar kita. wassalamualaikum warahmtullahi wabarakatuh.

Tinggalkan komentar