Makrifat

assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

kedudukan manusia dihadapan Allah SWT. memang berbeda-beda. Yang membedakan kedudukan tersebut ialah kualitas usaha dalam mewujudkan iman dan taqwanya  kepada Allah SWT. Iman seseorang nantinya akan mengantarkan dirinya kepada derajat tertinggi di sisi Allah SWT.

orang-orang yang mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah tidaklah gampang dalam menjalani setiap tahapan yang dilaluinya. Pada pembahasan ini kami akan mengulas sedikit keterangan mengenai kedudukan makrifat.

Penjelasan Makrifat

Yaitu kedudukan tertinggi seorang hamba dihadapan Allah SWT. maqam makrifat tidak bisa dikatakan sama dengan maqam Nabi, sebab yang menduduki maqam makrifat adalah orang yang bukan seorang nabi tetapi memiliki derajat tinggi di sisi Allah, dan derajat tersebut tentu berada di bawah derajat kenabian.

Baca Juga: Artikel Iman Kepada kitab Allah SWT

Kedudukan Makrifat

Para pelaku tasawuf yang telah meniti tiga maqom (tingkatan) sebelumnya, yaitu tawakal, ridlo, dan syukur akan menjalani maqom-maqom selanjutnya, yaitu mahabbah, tuma’ninah, dan ma’rifat.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, mengurai ketiga maqom tersebut. Mahabbah adalah maqom cinta kepada Allah. Kalau sudah cinta kepada-Nya, kepada apapun cinta, mencintai segalanya.

Orang yang menapaki maqom tersebut, yang cantik, yang jelek, yang pintar, yang bodoh, yang kaya, yang miskin; semua dicintainya. “Karena semuanya yang ada itu adalah tanda-tanda keagungan Allah,”.

Kalau sudah mahabbah, akan tumbuh tuma’ninah, atau full happy, enjoy. Hati orang yang menempuh jalan tuma’ninah adalah tenang.  “Tuma’ninah bukan di rumah, mobil, uang, tapi dalam hati,” tambahnya.

Setelah maqom tuma’ninah, muncul maqom terakhir, ma’rifat. KH. Said Aqil Siradj lalu menjelaskan, maqom ini dengan pengalaman yang pernah dilalui oleh Imam Ghazali sepulang menyepi di masjid Damaskus.

Setelah keluar dari masjid tersebut, ia tak bisa mengatakan pengalamannya.  “Ilmu ma’rifah tak bisa dituliskan. Tak bisa diceritakan. Tidak bisa diajarkan dengan kata-kata,” begitu keterangan dari ketua umum PBNU tersebut.

Orang yang sedang mengalami maqom ma’rifat, tahu betul bahwa segala sesuatu dari Allah, untuk Allah, karena Allah, bersama Allah. Tanpa itu sedetik saja, dunia hancur.  Beliau juga kemudian menegaskan bahwa ketiga maqom tersebut dinamakan tajalli atau manifestasi.

Allah sudah menjelma dalam segala keadaannya.  Dampak spiritual temporalnya adalah al-uns, harmonis. Amal salehnya, bukan karena lita’abud atau ibadah, bukan litaqorub atau ingin dekat dengan Allah, melainkan litahaquq atau mencari hakikat. Nah maqom-maqom tersebut adalah versi ringkasnya.

Dari sedikit keterangan makrifat yang disampaikan oleh KH. Said Aqil Siradj tersebut dapat kita pahami bahwa maqam makrifat ialah suatu kedudukan tertinggi bagi seorang hamba dihadapan Allah SWT. kedudukan tersebut tidak instan dan diberikan secara cuma-cuma oleh Allah kepada hamba-Nya.

Seseorang yang berada pada maqom makrifat tidaklah mungkin akan menceritakan kedudukannya kepada setiap orang. Namun berbeda halnya dengan orang yang sudah berada pada maqam makrifat, maka akan mengetahui kemakrifatan hamba lainnya.

Kedudukan makrifat seseorang juga tidak bisa diteorikan layaknya suatu teori mengenai penjelasan pelajaran atau tatacara tentang mencapai suatu tujuan. Kedudukan makrifat hanya bisa diraih dan dirasakan oleh orang yang telah berhasil melalui tahap-tahap di atas tersebut.

Maka kedudukan makrifat tidaklah instan dan orang yang berada pada kedudukan tersebut tidaklah mungkin akan memamerkan kedudukannya demi meraih suatu penghargaan dunia seperti mencari kekayaan atau ketenaran di hadapan sesama manusia.

Baca Juga: Artikel Iman Kepada Qada dan Qadar

Nah itulah sedikit keterangan mengenai kedudukan makrifat yang dapat kami sampaikan, apabila terdapat penjelasan yang kurang di paham, maka alangkah lebih baik untuk menanyakan kepada ustadz atau guru disekitar anda sehingga dapat memberikan pemahaman yang bisa lebih dipahami.

Semoga bermanfaat untuk kita semuanya. Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

2 pemikiran pada “Makrifat”

Tinggalkan komentar