Iman Kepada Qada Dan Qadar

Pengertian Iman kepada Qada dan Qadar

Iman artinya percaya, qada artinya keputusan, hukum, kehendak dan perintah. Qadar berarti ukuran, kekuasaan, perwujudan dan batasan. Secara istilah qada adalah ketentuan Allah yang belum terjadi, sedangkan qadar adalah ketentuan Allah yang telah terjadi. Jadi iman kepada qada dan qadar adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini dikuasai oleh suatu hukum yang pasti dan tetap yang tidak tunduk pada kemauan manusia.

Baca Juga : Hikmah Iman Kepada Hari Akhir

Perbedaan Qada dan Qadar

Contoh Qada dan Qadar

Baca Juga : Pengertian Iman 

Syekh Muhammad Saleh al Usaimin mengemukakan bahwa takdir itu mempunyai 4 tingkatan yaitu :

  • Al Ilmu yaitu meyakini bahwa Allah SWT maha mengetahui segala sesuatu
  • Al Kitabah yaitu mengimani bahwa Allah SWT telah menuliskan segala ketetapan dalam kitabnya, hal ini terdapat dalam Q.S. Al Hadid : 22
  • Al Masyi’ah yaitu mengimani bahwa kehendak Allah SWT terhadap segala sesuatu yang terjadi atau tidak terjadi baik di langit atau di bumi, hal ini dapat dilihat dalam Q.S. At Takwir : 28-29
  • Al Kholqu yaitu mengimani bahwa Allah SWT sebagai pencipta segala sesuatu serta meyakini bahwa segalanya adalah ciptaan Allah SWT.

Mengenai qada dan qadar (takdir) terdapat beberapa pendapat dikalangan ulama yaitu sebagai berikut :

  • Paham Jabbariyah, tokohnya Jahm bin Sofyan, berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kehendak untuk berbuat sehingga manusia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya karena perbuatan manusia atas paksaan takdir Allah
  • Paham Qodariyah, tokohnya Ma’bad al Juhni, berpendapat manusia telah diberi akal untuk berpikir dan berbuat sekehendaknya sehingga nanti akan mempertanggungjawabkan perbuatannya
  • Paham Ahli Sunnah wal Jamaah, tokohnya Abu Hasan al Asy’ari dan Abu Mansyur al Maturudi, berpendapat bahwa manusia itu bebas berbuat tetapi kebebasannya dibatasi oleh takdir Allah

Bukti Bukti Adanya Qada dan Qadar

Untuk mengetahui adanya takdir, maka kita harus mempelajari Al-Qur’an terlebih dahulu. Karena dalam Al-Qur’an segala sesuatu telah dijelaskan oleh Allah. Di dalam Al-Qur’an telah disebutkan bahwa manusia berdasarkan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah dibagi menjadi 2 macam yaitu sebagai berikut :

  • Takdir Musayyar yaitu bahwa manusia dalam hidupnya sudah ditentukan dan dipaksa oleh Allah untuk menjalaninya dalam kondisi tertentu. Sebagai contoh : kelahiran dan kematian manusia tidak ada yang tahu, manusia dilahirkan dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan manusia tidak bisa memilih, dan sebagainya. Semua itu telah ditakdirkan oleh Allah dan manusia tinggal menerimanya saja.
  • Takdir Mukhayyar yaitu bahwa manusia itu dalam hidupnya diberi kebebasan oleh Allah untuk memilih sesuatu yang ada di dunia dengan ketentuan ada akibat dari yang dipilih tersebut. Seperti dalam firman Allah dalam Qur’an Surat Al Balad ayat 10. Sebagai contoh manusia memilih berbuat jahat maka dia akan diazab di neraka, sebaliknya jika berbuat baik berada pada kenikmatan surga.

Baca Juga : Tentang Beriman Kepada Malaikat

Pengertian Sunnatullah

Sunnatullah berarti ketentuan-ketentuan atau hukum Allah yang berlaku atas segenap alam dan berjalan secara tetap dan teratur. Sunnatullah terdiri dari 2 macam yaitu :

  • Sunnatullah qauliyah adalah sunnatullah yang berupa wahyu yang tertulis dalam bentuk lembaran atau buku yaitu Al-Qur’an.
  • Sunnatullah kauniyah adalah sunnatullah yang tidak tertulis dan berupa kejadian atau fenomena alam contoh gerhana matahari.

Sunnatullah kauniyah dan qauliyah memiliki persamaan yaitu keduanya berasal dari Allah, keduanya dijamin kemutlakannya dan keduanya tidak dapat berubah atau diganti kecuali oleh Allah sendiri.

Baca Juga : Pengertian Iman Kepada Allah SWT 

Arti ikhtiar dan Tawakal

Ikhtiar adalah memilih. Secara istilah ikhtiar adalah berusaha secara maksimal dalam mencapai tujuan dan hasil, serta bergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah. Seperti dalam firman Allah Qur’an Surat Ar Ra’d ayat 11.

Contoh dari ikhtiar adalah kisah dari Umar bin Khatab yang tidak datang ke suatu daerah yang disana sedang dilanda penyakit menular. Beliau berusaha untuk menghindari terjangkit penyakit tersebut.

Tawakal adalah berserah diri kepada Allah atas apa yang telah ditakdirkannya setelah berusaha sebaik mungkin. Seperti dalam firman Allah Qur’an Surat Ar Ra’du ayat 11.

Contoh dari tawakal adalah seseorang pengendara motor memarkirkan motornya ditempat parkir dan dikunci dengan aman serta dititipkan pada tukang parkir.Menurut Al Ghozali, orang yang bertawakal terbagi menjadi 4 bagian yaitu :

  • Orang yang berusaha memperoleh sesuatu yang dapat membawa manfaat kepadanya
  • Orang yang berusaha memelihara sesuatu yang dimilikinya supaya mendapatkan hal-hal yang bermanfaat
  • Orang yang berusaha menolak dan menghindarkan diri dari hal-hal yang akan menimbulkan bencana
  • Orang yang berusaha menghilangkan mudorot yang menimpa dirinya

Hubungan antara Takdir, Ikhtiar dan Tawakal

Pada dasarnya takdir manusia sudah ditetapkan oleh Allah dan manusia hanya tinggal menjalaninya saja. Hal ini dapat kita liha dalam surat At Taubah ayat 51.

Tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua sisi kehidupan manusia itu ditetapkan oleh Allah, tetapi ada sisi manusia yang tergantung dari manusia itu sendiri yang mana manusia harus berusaha untuk mencapainya. Hal ini terdapat dalam Q.S. Al Insaan ayat 3.

Dengan demikian manusia harus berusaha berikhtiar untuk mendapatkan apa yang telah Allah tetapkan kepada manusia. Tanpa adanya usaha / ikhtiar sangat tidak mungkin manusia akan mendapatkan apa yang diinginkan dari karunia Allah yang terdapat di alam raya ini. Allah telah memerintahkan manusia untuk berusaha dalam hidup ini dalam firmannya Qur’an Surat An Najm ayat 39 sampai 41.

Setelah manusia melakukan usaha / ikhtiar kemudian disusul dengan adanya tawakal atau berserah diri keoada Allah. Dengan bertawakal kepada Allah, maka manusia menyerahkan segala usaha yang telah dilakukannya hanya kepada Allah karena tidak ada kekuatan yang dapat memberikan apa yang diinginkan manusia melainkan Allah SWT semata. Manusia yang sudah bertawakal, Allah yang akan memberinya balasan. Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam Qur’an Surat At Thalaq ayat 3.

Orang yang bertawakal hanya menyerahkan diri kepada Allah SWT karena mereka adalah termasuk golongan orang yang beriman dan tidaklah mungkin orang yang bertawakal akan berputus asa jika hanya apa yang telah diusahakannya tidak tercapai sesuai dengan tercantum dalam Qur’an Surat Yusuf ayat 87.

Baca Juga : Iman Kepada Kitab Allah SWT

Fungsi Iman kepada Qada dan Qadar

Untuk meningkatkan keimanan seseorang perlu memahami beberapa fungsi iman kepada Qada dan Qadar berikut ini :

  • Membuat seseorang semakin mantap dalam meningkatkan kepada Allah
  • Menumbuhkan kesadaran kepada umat manusia bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini berjalan sesuai dengan ketentuan Allah
  • Mendorong manusia untuk melakukan penelitian terhadap benda-benda alam yang kemudian dirumuskan dalam berbagai teori ilmu pengetahuan
  • Menumbuhkan sikap terpuji, sabar, optimis, qona’ah dan kreatif
  • Menghilangkan sikap tercela seperti sombong, kufur, iri hati dan pesimis

3 pemikiran pada “Iman Kepada Qada Dan Qadar”

Tinggalkan komentar