Ijma

Arti Ijma

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Di dalam agama Islam, terdapat beberapa cara dalam penentuan sumber hukum untuk suatu perkara yang terjadi di dunia ini. Sumber hukum yang pertama ialah al-Qur’an, yang kedua adalah sunnah.

Selain menggunakan al-Qur’an dan sunnah sebagai sumber hukum, bagi golongan ahlussunnah wal jamaah juga menggunakan ijma dan qiyas sebagai metode dalam penentuan hukum.

Nah pada kesempatan yang berbahagia ini, kami akan membahas pengertian dari ijma, perlu diketahui bahwa keterangan ini kami ambil dari situs NU online.or.id. kami mengambil dari situs tersebut guna menjaga keaslian makna dan maksud yang terkandung didalamnya.

Pengertian Ijma

Apa sih yang dimaksud dengan Ijma’? Yang disebut Ijma’ adalah kesepakatan para Ulama atas suatu hukum yang terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Pada masa hidupnya Nabi Muhammad saw seluruh persoalan hukum kembali kepada Beliau.

Namun, setelah wafatnya Nabi hukum dikembalikan kepada para sahabatnya dan para Mujtahid. Kemudian ijma’ terbagi menjadi 2 macam , yaitu pertama,  Ijma’ Bayani (الاجماع البياني ) dan yang kedua adalah ijma Sukuti (الاجماع السكوتي)

Ijma’ Bayani

Pertama ijma bayani, Ijma’ Bayani (الاجماع البياني )  ialah apabila dari semua Mujtahid yang ada, semuanya  mengeluarkan pendapatnya, baik berbentuk perkataan maupun tulisan yang menunjukan kesepakatannya.

Baca Juga : Artikel Penjelasan Amanah

Ijma’ Sukuti

Kedua,  Ijma’ Sukuti (الاجماع السكوتي) yaitu apabila dari semua mujtahid yang ada hanya sebagian Mujtahid mengeluarkan pendapatnya dan sebagian yang lain diam, sedangkan diamnya menunjukan setuju, bukan karena takut atau malu. Dalam ijma’ sukuti ini Ulama’ masih berselisih faham untuk diikuti, karena setuju dengan sikap diam tidak dapat dipastikan.

Adapun ijma’ bayani telah disepakati suatu hukum, wajib bagi umat Islam untuk mengikuti dan menta’ati. Karena para Ulama’ Mujtahid itu termasuk orang-orang yang lebih mengerti dalam maksud yang dikandung oleh Al-Qur’an dan  Hadist, dan mereka itulah yang disebut dengan Ulil Amri Minkum (اولىالامر منكم  ) atau pemimpin diantara kalian.

Sebagaimana dalam al-Qur’an, Allah SWT.  berfirman dalam surat An-Nisa’ ayat : 59

ياأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُوْاأَطِيْعُوْااللهَ وَأَطِيْعُوْاالرَّسُوْلَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنْكُمْ

Artinya: “Hai orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu”.

Para Sahabat juga pernah melakukan ijma’ ketika terjadi suatu masalah yang tidak ada dalam al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw.  Pada zaman sahabat Abu Bakar dan sahabat Umar ra.  jika mereka sudah bersepakat maka wajib diikuti oleh seluruh umat Islam.

Inilah beberapa Hadits yang memperkuat Ijma’ sebagai sumber hukum, seperti disebut dalam Sunan Tirmidzi.

اِنَّ اللهَ لاَ يَجْمَعُ اُمَّتىِ عَلىَ ضَلاَ لَةٍ, وَيَدُاللهِ مَعَ اْلَجَماعَةِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menghimpun umatku atas kesesatan dan perlindungan Allah beserta orang banyak.”

Selanjutnya, dalam kitab Faidlul Qadir

اِنَّ اُمَّتىِ لاَتَجْتَمِعُ عَلىَ ضَلاَ لَةٍ فَاءِذَارَأَيْتُمُ اخْتِلاَ فًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِاْ لأَعْظَمِ.

Artinya: “Sesungguhnya umatku tidak berkumpul atas kesesatan maka apabila engkau melihat perselisihan, maka hendaknya engkau berpihak kepada golongan yang terbanyak”.

Nah itulah pengertian ijma’, jadi ijma’ adalah kesepakatan para ulama ahli mujtahid dalam penentuan status hukum atas suatu perkara yang baru, dan perkara tersebut merupakan perkara yang belum ada sebelumnya dan juga tidak dibahas secara langsung baik dalam al-Qur’an maupun hadis Nabi saw.

Jadi penggunaan ijma’ dalam penentuan sumber hukum Islam merupakan salah satu hal yang dilakukan oleh para sahabat nabi, maka ijma’ bukanlah perbuatan yang bid’ah, melainkan perbuatan yang diperbolehkan dalam Islam. Terlebih lagi dalam penentuan hukum dalam urusan fiqih, hampir sebagian besar merupakan hasil dari Ijma’ para ulama.

Baca Juga: Artikel kisah Nabi Ibrahim

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, atas kurang dan lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ihdinash shiraathal mustaqim. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tinggalkan komentar