Hukum Jual Beli Online Dropship

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jual beli online saat ini merupakan salah satu bentuk usaha yang menggiurkan. Seseorang yang ingin berjualan tidak diharuskan memiliki toko untuk menaruh dan menjual barang dagangannya. Cukup dengan menggunakan smartphone dan media sosial sebagai tempat menawarkan barang.

Maraknya jual beli online membuka peluang bagi siapa saja untuk menjadi pedagang meskipun tidak memiliki modal atau hanya bermodalkan smartphone saja.

Memahami Sistem Dropship

Jual beli dengan sistem dropship yaitu jual beli barang dengan cara menjualkan barang dagangan milik orang lain. Sebagai penjual ia tidak menyetok barang sehingga dapat dikatakan penjual tidak melihat barang dagangannya namun mengetahui sifat-sifat dari barang tersebut.

Seorang dropshipper ialah orang yang diberikan hak untuk menjual belikan barang seseorang dengan adanya upah yang akan diberikan bila berhasil menjualkan barang dagangannya.

Hukum Jual Beli dengan Sistem Dropship 

Dropshipping dengan barang yang mendapat izin dari supplier, biasanya dilakukan dengan cara pihak dropshipper meminta izin kepada supplier untuk ikut menjualkan barangnya. Dengan demikian maka pedagang berperan sebagai orang yang diizinkan atau mendapatkan kuasa untuk menjualkan.

Sebagai orang yang mendapatkan hak kuasa, maka kedudukannya hampir sama dengan pedagang reseller. Hanya saja kondisi barang yang dijual tidak ada di tangan pedagang.

sebagai orang yang diberi izin untuk menjualkan barang, maka dropshipping ini masuk kategori bai’u ainin ghaibah maushufatin bi al-yad, yaitu jual beli barang yang belum ada di tempat tetapi bisa diketahui sifat dan ciri khas barangnya dan hukumnya diperbolehkan karena ada pemberian kuasa.

Pendapat Para Ulama Tentang Dropship

Kelompok ulama mazhab Syafi’i ada yang memandang hukumnya sebagai boleh sebagaimana pendapat berikut ini:

وقوله لم تشاهد يؤخذ منه أنه إذا شوهدت ولكنها كانت وقت العقد غائبة أنه يجوز

“Maksud dari pernyataan Abi Syujja’ “belum pernah disaksikan”, difahami sebagai “apabila barang yang dijual pernah disaksikan, hanya saja saat akad dilaksanakan barang tersebut masih ghaib (tidak ada)”

Namun kebolehan ini disertai dengan syarat mutlak yaitu apabila contoh barang tersebut pernah disaksikan oleh pembeli, mudah dikenali dan tidak gampang berubah modelnya, sebagaimana pendapat ini tercermin dari pernyataan berikut ini:

إن كانت العين مما لا تتغير غالبا كالأواني ونحوها أو كانت لا تتغير في المدة المتخللة بين الرؤية والشراء صح العقد لحصول العلم المقصود

“Jika barang “‘ain ghaibah” adalah berupa barang yang umumnya tidak mudah berubah, misalnya seperti wadah (tembikar) dan sejenisnya, atau barang tersebut tidak mudah berubah oleh waktu ketika mulai dilihat (oleh yang dipesani) dan dilanjutkan dengan membeli (oleh yang `memesan), maka akad (jual beli ‘ain ghaibah) tersebut adalah sah disebabkan tercapainya pengetahuan barang yang dimaksud.”

Adapun akad jual beli untuk dropshipping model ini adalah akad salam, yaitu jual beli dengan sistem pemesanan. Hukumnya adalah boleh (jaiz).

Kesimpulan  Dropshipping adalah sistem jual beli online tanpa modal dengan barang yang masih belum menjadi milik pihak penjual. Ada dua sistem dropshipping berdasarkan keberadaan izin yang dipegang oleh penjual.

Pertama, dropshipping tanpa izin menjualkan barang oleh supplier. Hukumnya adalah haram menurut mayoritas ulama. Hanya mazhab Hanafi saja yang memperbolehkan sistem jual beli ini. Akad yang dibangun dalam sistem pertama ini ialah akad makelaran (samsarah).

Kedua, dropshipping dengan izin menjualkan barang. Akad yang dibangun dalam model kedua ini adalah akad salam. Ulama empat mazhab menyatakan status kebolehan hukumnya.

Khusus untuk mazhab Syafi’i, terdapat catatan khusus terkait dengan barang yang dijual, yaitu apabila barang terdiri atas barang yang tidak mudah berubah baik model maupun sifat barangnya. Namun untuk barang yang mudah berubah model dan sifat barangnya, maka hukumnya sepakat tidak boleh.

Tinggalkan komentar