Dalil Akikah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita menjumpai seseorang menyembelih kambing untuk akikah anaknya yang baru lahir. Akikah akan dilaksanakan oleh orang tua dari anak tersebut. Jadi pada pembahasan kali ini akan kami ulas mengenai akikah.

Akikah bukan merupakan sesuatu yang jarang kita temui, bagi kalangan umat muslim, akikah menjadi suatu hal yang patut dilaksanakan atas lahirnya seorang anak. Akikah merupakan bentuk rasa syukur orang tua karena telah dikaruniai seorang anak.

Baca Juga : Doa Agar Rezekinya Lancar

Akikah sendiri sudah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW atas lahirnya cucu beliau yaitu sayyidina hasan dan sayyidina Husain. Jadi akikah itu bukan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Arti Akikah

Kata akikah bila dilihat secara etimologi maknanya ialah rambut bayi (anak kecil) yang baru lahir. Sedangkan dalam terminologi syara’ akikah ialah hewan yang disembelih karena anak yang baru lahir pada hari ke tujuh dari kelahirannya.

Jadi akikah merupakan penyembelihan hewan karena lahirnya seorang anak. Akikah sendiri dilakukan pada hari ke tujuh dari kelahiran sang anak. Akan tetapi bila pada hari ke tujuh tersebut tidak ada biaya untuk pelaksanaan akikah, maka cukup dengan mengadakan tasyakuran biasa meski tidak menyembelih kambing.

Dalil Akikah

Dalil tentang pelaksanaan akikah ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah ra. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya : “anak kecil itu digadaikan dengan akikahnya, hendaknya ia diakikahi pada hari ke tujuh (dari kelahirannya), lalu rambutnya dipotong lalu diberi nama.” (HR. Ahmad danTirmidzi).

Terdapat pula hadis lain yang artinya yaitu: “sesungguhnya Nabi Muhammad SAW memerintahkan memberi nama pada anak yang baru lahir di hari ketujuhnya dan menghilangkan kotoran darinya serta melaksanakan akikah pada anak tersebut.” (HR. Tirmidzi)

Hukum Akikah

Hukum akikah adalah sunnah muakkad bagi orang yang wajib menafkahi, meliputi ayah dan orang yang mengasuh anak. Sementara orang tua perempuan tidak dituntut (tidak di sunnahkan) untuk mengakikahi putranya bila masih terdapat orang tua laki-laki yang mampu mengakikahinya.

Sebab nafkah orang tua perempuan ada dalam tanggungan orang tua laki-laki, kecuali orang tua laki-laki tidak mempunyai kecukupan harta, maka bila orang tua perempuan yang mampu melaksanakn akikah, ia tetap disunahkan untuk mengakikahi putranya.

Pelaksanaan Akikah

Akikah sunnah dilaksanakan pada hari ke tujuh dari kelahiran sang anak, sekalipun seandainya anak tersebut telah meninggal sebelum hari ketujuh. Sebenarnya waktu pelaksanaan akikah pada hari ketujuh itu bukanlah ketentuan yang paten.

Hanya saja waktu pelaksanaan akikah yang utama ialah pada hari ke tujuh dari kelahiran anak tersebut. Ada seorang ulama berpendapat bahwa janin yang berada dalam kandungan bisa di akikahi asalkan janin tersebut sudah ada ruhnya (sudah berusia lebih dari empat bulan).

Baca Juga : Doa Keselamatan

Kesunahan melaksanakan akikah tidak terkecuali bagi anak yang lahir dari perzinaan. Maksudnya ialah bial lahir seorang anak dari hubungan zina, maka atas kelahiran anak tersebut tetap disunahkan untuk melaksanakan akikah. Hanya saja yang disunahkan untuk mengakikahi ialah ibunya.

Sebab ayah dari anak hasil zina tersebut tidak dianggap ayah secara nasab, namun dalam pelaksanaan akikah tersebut tidak sunah ditampakan, karena dikhawatirkan akan menyebarkan aib orang tuanya.

Jumlah Hewan Akikah

Jumlah hewan yang mencukupi untuk akikah bagi anak laki-laki ialah dua ekor kambing. Sementara untuk anak perempuan ialah satu ekor kambing. Bila anak laki-laki hanya di akikahi dengan satu ekor kambing, sebenarnya sudah cukup mencapai kesunahan, hanya saja kesunahan tersebut kurang sempurna.

Sedangkan bila lahir seorang anak yang memiliki kelamin ganda (red. Khuntsa) maka disamakan dengan bayi laki-laki yaitu dua ekor kambing.

Demikian pembahasan berkaitan dengan akikah yang dapat kami sampaikan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tinggalkan komentar