ARTI SIDIQ

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. gimana kabarnya sobat pembaca? semoga setelah membaca artikel ini rezekinya semakin lancar amin. pada kesempatan ini admin akan membahas tentang artikel “arti sidiq”

Sebagai umat muslim yang beriman akan adanya utusan Allah atau rasulullah maka sudah barang tentu kita juga mengerti akan sifat-sifat para rasul yang diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia di muka bumi ini.

Seorang rasul dibekali keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Keistimewaan tersebut diberikan oleh Allah tujuannya adalah sebagai bukti kenabian atau sebagai bukti telah diangkat menjadi seorang rasul.

Di dalam islam kejujuran sangat ditekankan untuk selalu dipraktekan oleh seluruh umat islam. Bahkan kejujuran mendapat tempat kedudukan istimewa, sebab ia merupakan penopang atau penyangga jalan menuju kebaikan bagi manusia.

Baca Juga : Pengertian Iman

Menurut imam Qusyairi, kejujuran menepati tempat setingkat di bawah kenabian, sebagaimana dalam firman Allah SWT yang artinya,

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang  yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dan orang –orang yang menetapi kebenaran.”

Al-Qur’an memuji orang yang jujur lebih dari dia puluh kali. Salah satunya disebutkan dalam surat al-ahzab ayat 24 “supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka.”

Pengertian Sidiq

Sidiq merupakan kalimat berbahasa arab yang apabila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia maka bermakna jujur.  Jujur merupakan sifat yang sangat terpuji dan memiliki kedudukan yang tinggi disisi Allah . sebagaimana dijelaskan dalam uraian di atas.

Salah satu ciri kejujuran di dalam ajaran islam adalah jika batin seseorang serasi atau sesuai dengan perbuatan lahirnya. Sayyidnia Umar bin Khotob pernah melarang umat islam melihat dan menilai puasa atau sholat seseorang.

Tetapi hendaknya melihat kejujuran ucapan seseorang bila ia berbicara. Juga melihat amanahnya bila ia diberi tanggung jawab dan kemampuannya meninggalkan apapun yang meragukan jika mendapat kenikmatan dunia.

Inti dari pada sebuah kejujuran adalah bila seseorang berkata benar dalam situasi yang sangat sulit, dimana hanya perkataan bohong yang dapat menyelamatkannya namun ia tetap mengatakan yang sejujur-jujurnya.

Pernyataan serupa juga diucapkan oleh Imam Thobari dengan menekankan betapa pentingnya seseorang berkata dan bertingkah laku jujur dalam menjalani kehidupan sehari-hari, meskipun kejujuran akan membunuh atau membinasakan dirinya.

Baca Juga : Cerita anak islam

Dalam tafsir At-Thobari terdapat sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Ibnu mardawaih dari Ibnu Abbas, “bahwa salah seorang yang berasal dari golongan ansor yang berperang bersama Rasululloh SAW kehilangan baju besi.

Seorang laki-laki lain dari golongan Ansor tertuduh bahwa ia mencuri baju tersebut. Lalu pemilik baju tersebut menghadap Rasululloh dan mengatakan bahwa Tu’mah bin Ubairik  telah mencuri baju besi tersebut dan meletakkannya di rumah salah seorang yahufi yang tidak bersalah.

Lalu, pada suatu malam kerabat Tu’mah pergi dan menghadap Rasululloh lalu mengatakan kepada beliau “sesungguhnya saudara kami Tu’mah bersih dari tuduhan tersebut, sesungguhnya si pencuri baju besi itu adalah si Fulan, dan kami benar-benar mengetahui hal itu, maka bebaskanlah saudara kami dari segala tuduhan itu di hadapan khalayak dan belalah dia.”

Maka berdirilah Rasululloh dan membersihkan Tu’mah dari segala tuduhan tersebut dan Rasululloh mengumumkan tentang masalah tuduhan tersebut di depan khalayak ramai. Maka turunlah ayat 113 dari surat An-Nisa,

“sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu. Tetapi, mereka tidak menyesatkan, melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakan sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan karunia Allah sangat besar atasmu.”

Mengamalkan atau mempraktekan kejujuran sangatlah penting. Membangun sikap dan sifat jujur merupakan upaya untuk membentuk mental spiritual yang sangat penting. Mengingat apabila kejujuran sudah dianggap sepele maka kehancuran moral manusia sangat tampak nyata.

Maka sebagai upaya untuk terus melakukan atau mengamalkan kejujuran, kita tidak boleh lupa bahwa terdapat hal lain yang mesti didahului yaitu meneladani orang-orang terdahulu dari para pemimpin bangsa kita yang memiliki sikap dan sifat kejujuran yang sangat luar biasa.

Sebelum menutup keterangan tentang sidiq perkenankan kami mengutip sebuah kalimat dari Imam Malik, “keteladanan adalah yang paling utama. Sebab ucapan tanpa keteladanan tidak akan perrnah bisa dipahami.”

Demikian uraian “Arti Sidiq” yang dapat kami sajikan kepada para pembaca semuanya. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya tentu terdapat kekurangan baik dalam penulisan atau kurangnya pemahaman yang dapat kami sampaikan.

Wassalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Tinggalkan komentar